Monday, May 25, 2009

Galuh di USA




Foto-foto Galuh saat mengikuti debat/diskusi/konferensi (atau apalah) "Harvard National Model United Nations 2009".Yang ceritanya sekilas aku ceritakan di http://balqis57.multiply.com/journal/item/42
Kalau cerita lengkapnya....hehehe,di buku yang lagi aku tulis ya ;-)

Monday, April 20, 2009

Kegagalan Menyaksikan Afgan

 

Afgan show di Emporium Pluit. Berita itu terlintas sekejap di pendengaranku dari Mr.Di yang baru seminggu ini bekerja di daerah tersebut. Sedangkan daku sudah lama tak melongok milis cowok yang sedang digilai oleh para ABG se-Nusantara. (Gue ABG??? Bukan! Karena gue emang tidak menggilai-nya, tapi gue-nya aja yang emang gila masih doyan sama brondong ‘belahan jiwa’ ini...wakakakakak....huuuiiiyyy bulan depan kami ultah! Mohon dicatat yeee!!!)

Hari H tiba, pukul setengah 12-an siang daku menelpon Mr.Di. Belum sempat ngomong apa-apa ke dia, eh Mr.Di yang sedang lunch langsung menyambar,”Afgan siang ini di Emporium. Jadi kesana? Nanti aku nyusul deh kesana, tapi jam setengah 4-an ya.”

Bukannya nggak percaya bahwa Afgan bakal show di Emporium, tapi menurut koran terbitan MNC, Afgan bakal live show di acara Dahsyat Award. CkCkCk...laris pisan euy! Pluit – Ancol memang nggak jauh kalau lewat jalan toll. Dahsyat Award berlangsung di Ancol.

Daku radak nggak niat ke Pluit. Nggak ngerti lokasi tepat Emporium Pluit soalnya. Jadi untung-untungan ajah dah ngeloyor kesana. “Saktinya” dari Pulo Mas ke Pluit Village (d/h Mega Mall Pluit) nggak sampai 1 jam perjalanan, naik busway - TransJakarta! Busway, I lop yu...I nit yu...kalau bukan jam berangkat dan pulang orang kantoran!!!

Jam ½ 4-an daku menelpon Mr.Di, ternyata dia masih berkutat di tempat kerjanya. En jam 4-an lebih barulah dia nongol dihadapanku. Daku langsung ngomong,”Mana Afgannya?”. Dengan nada tidak sudi disalahkan Mr.Di ngomong,”Aku bilang khan di Emporium. Makanya aku bingung kenapa kamu nunggu aku di sini...”

Daku langsung “menyeretnya” untuk lari ke Emporium Pluit yang terletak tidak terlalu jauh dari Pluit Village. Huuuaaa...sampai di Emporium Pluit tampak ratusan or ribuan ABG keluar dari lobby. Dari tampangnya dapat terbaca kalau mereka adalah AFGANISME. Daku-pun langsung histeris (huuu...drama queen dah! ;-p),”Mereka pasti baru selesai nonton Afgan. Tampang-tampangnya begitu, apalagi mereka keluar gerembolan gituh....”

Lagi Mr.Di serasa tidak sudi disalahkan,”Aku khan udah kasih tahu kalau Afgan show-nya jam 14.30. Kenapa kamu tadi nggak langsung kesini, malah nunggu di Pluit Village..” Yeeeeh, daku khan ngertinya Mega Mall Pluit karena udah beberapa kali kesini.

Daku hanya bisa termanyun-manyun sambil menyaksikan para crew band membenahi aneka peralatan show-nya Afgan. Sementara stage tampak di-desain memang khusus untuk Afgan. Gimana nggak, backdrop gede-nya terpampang foto besar Afgan gaya pengen kondangan alias memakai jas lengkap gaya para paman serta kacamata kakek-nya tapi berwajah imut. Selama menekuni dunia penonton show bertahun – tahun menurutku inilah backdrop ternarsis yang pernah daku lihat...hiyaaah semoga ini bukan bentuk kekesalanku karena kegagalan cinta (eh ini mah Rhoma Irama) – kegagalan menonton Afgan dengan mengenaskan. Padahal kalau daku tadi langsung ke Emporium maka daku pasti bisa menyaksikan show-nya.

Dari Emporium kami berdua mampir ke Pluit Juction. Benerannya mau ke karaoke box, tapi penuuuhhh...Akhirnya kami ngeluyur ke Ciputra Mall Grogol. Lumayan euy, makan di fastfood Meksiko murah meriah. Fajitas...Tortilas....cihhuuuy, akhirnya daku bisa nemu lagi yang murah meriah setelah Pollo Champero lenyap ditelan provider telekomunikasi di Sarinah Thamrin.

Kegagalan menyaksikan Afgan di Emporium terobati ketika sampai rumah daku masih sempat menyaksikan Afgan menyanyikan ‘Bukan Cinta Biasa’ di Dahsyat Award. Live dari Ancol!

Sunday, March 22, 2009

Ngacir di Bumi Khatulistiwa

Bukan karena pas film ‘Kuntilanak Beranak’ tayang di bioskop di Jabodetabek saya pergi ke Pontianak ;-p. Sebagai warganegara Indonesia rasanya masih nelangsa kalau sudah berkunjung ke aneka tempat/negara di dunia ini tetapi belum berkunjung ke Pontianak. Kenapa? Karena waktu SD dulu saya selalu digembar – gemborkan bahwa kita harus bangga dengan negeri tercinta, Negeri Khatulistiwa – Zambrud Khatulistiwa. Satu negara yang ‘beruntung’ dilintasi oleh titik equator. Karena terlalu luasnya, saya yang di Jawa masih belum melihat dengan mata kepala sendiri ‘titik tepat’ garis khatulistiwa kebanggaan guru IPS zaman SD.

Hiks...nelangsa khan kalau udah berkunjung dan melihat dengan mata kepala sendiri aneka landmark di dunia, namun belum melihat landmark Khatulistiwa secara langsung? Lah...daku khan orang Indonesia, negeri yang dikaruniakan oleh-Nya permata Khatulistiwa yang tidak semua negara memiliki karunia ini.

So begitu dapat info kakak en ibu ingin berkunjung ke kota salah satu pulau terbesar di dunia ini, saya langsung samber koper. Anggaran untuk jadi turis koper (bukan backpacker) memang nggak ada...hehehe...justru itu mumpung ada yang mau kesana saya ikutan dengan modal dengkul. Tiket Garuda nomer penerbangan GA504 baru didapatkan beberapa jam di bandara. Kakak dan ibu saya yang sudah memegang tiket terlebih dahulu terbang, sedangkan saya melintasi selat Karimata tanpa didampingi oleh keluarga.

 

Yes, This Is Capital City of West Borneo

Sampai airport Supadio sempat melongo nggak ngerti mau ngapa’in karena nggak ngerti tempat menginap dan kakak saya belum menjemput. Hape kakak saya tidak aktif. Baru deh setengah jam kemudian kakak saya kelihatan, dan kami langsung menuju Hotel Kini (*3) di Jln Nusa Indah Pontianak. Hanya berdiam sejenak di hotel, saya dan Mbak Lien (kakak saya) langsung keluar hotel untuk menelusuri daerah sekitar hotel sambil mencari makan malam. Ibu sih nyantai aja di kamar hotel sambil menikmati sinetron kesayangannya.

Menelusuri jalan Patimura terdapat deretan kios penjual cinderamata/souvenir, makanan, kaos dan semua khas Kalimantan Barat – Jalan Patimura ini memang merupakan pusat penjualan oleh – oleh di Pontianak. Hanya menyeberang jalan hotel yang kami tinggali malam itu.

Makan malam di Cafetaria Segar Ria yang terletak beberapa meter dari pusat penjualan souvenir. Disana memang berderet tenda – tenda dan rumah makan permanen. Yang banyak dan khas di deretan penjual makanan tersebut adalah Mie Tiaw dari yang disiram sampai di goreng. Saya sih pesan Mie Atom Rebus alias mie kuning yang direbus dengan daging sapi dari beberapa jenis. Sebelum balik ke hotel kami berdua membeli roti di Kaisar Bakery yang sepertinya terkenal di Kalimantan Barat. “Bread Talk” lokal-nya Pontianak kaliiii....

Kalau mau makan biasanya memang di sekitar Jln Patimura, Jln Gajah Mada dan Jalan Diponegoro. Di hari kedua daku makan disekitar Jln Diponegoro, seberang Hotel Santika.

 

Hotel *3 to Hotel*3- Kriteria *3 yang Tak Standard

Karena satu sebab kami pindah ke Hotel Kapuas di Jln Gajah Mada. Dari luar hotel ini tampak lebih mewah dibandingkan hotel sebelumnya, apalagi hotel ini memang seringkali digunakan oleh para pejabat en katanya sih Presiden SBY pernah menginap di hotel ini ketika berkunjung ke Pontianak. Bahkan ketika saya menginap disini berbarengan dengan para gubernur se-Kalimantan yang akan mengadakan acara. Mobil dinas para gubernur terparkir di tempat parkir yang sebelumnya diparkiri oleh mobil full dempul yang mengantar kami...hahaha...soalnya sebelumnya Mbak Lien memang belum menghubungi pejabat setempat, jadi kami charter kendaraan se-adanya Nggak ngerti deh ada acara apa, saya sih sempat dijelaskan oleh pejabat PU dan pejabat Pemda yang mengantar dan menjemput kami, tetapi saya nggak terlalu menyimak. Urusan pemerintahan yang singkatannya bikin orang gak napsu ngapalinnya kalau gak ada urusannya langsung...hehehe....

Selama menginap di hotel tersebut ada 2 acara resepsi pernikahan, pertama pernikahan adat Jawa dan dihari berikutnya resepsi “adat” China International di pinggir kolam renangnya. Saat persiapan acara resepsi pernikahan di kolam renang tersebut, daku sempat melongok en poto2an di lokasi acara. En yang nggak saya kira adalah....siangnya di Function Hall 2 ada BOP Synergy! Hahaha...nggak ngira banget deh, dunia kecil....apalagi saat breakfast bareng dokter Hardjanto dari Solo. Padahal biasanya kami ketemuan di Jakarta.

Terus terang ajah, untuk aneka fasilitas dan service saya lebih nyaman di hotel sebelumnya walaupun secara kasat mata hotel yang pertama lingkungannya seperti pasar. Di hotel yang langganannya para pejabat pusat ini justru sempat membuat saya 3 kali terkurung di dalam lift. Sudah pencet alarm ‘call’ dalam lift...tetap aja nggak ada respon. Alhamdulillah hape masih aktif, jadi saya langsung menghubungi resepsionis yang justru akan menghubungkan ke bagian teknisi dan meminta agar saya menceritakan keberadaan kami yang terkurung di dalam lift. Haaalllaaahhh....orang lagi terkurung di lift diminta cerita! Telmi banget sih, Mas! Walaupun udah ada korban, tetap aja lift dioperasionalkan tanpa ditulisi bahwa lift rusak, karena sore-nya ada lagi 2 anak kecil dan polisi yang terjebak di lift tersebut. Anak2 kecilnya sampai teriak-teriak dan terdengar sampai luar lift, ketika lift terbuka kami langsung menyarankan mereka pindah ke lift lain. Hehehe..polisinya sampai pucat tuh....mungkin dia sedang diminta menjaga 2 anak atasannya. Selain itu, saya dibuat mangkel benggel dugel saat battery hape mati! Saat ingin nge-charge....saklar kontak listriknya berlobang pipih 3....aammmppuuuunnn, ini di NZ or Pontianak seh?! Padahal di hotel sebelumnya saya leluasa mengisi battery. Pokoknya selama di hotel pertama kami tidak pernah menelpon resepsionist atau roomservice karena semua kebutuhan kami terpenuhi, sedangkan di hotel kedua dalam sehari kami bisa beberapa kali menelpon resepsionist, roomservice atau housekeeping. Menyalakan telivisi aja harus manggil teknisi, trus kami dijelaskan cara menyalakan tv tersebut. Berasa gaptek dah gue! Sandal kamar dan penyumbat bathup aja harus diminta terlebih dahulu!!! Mbak Lien sampai menunda niatnya untuk berendam di bath-up, sedangkan saya menggunakan bath up sebagai KBU wartel! Hehehe...Mr.D nelpon dari Jakarta minta cerita aktifitas saya seharian ini, en kalau nelpon di kamar khan ada nyokap en Mbak Lien...jadinya saya masuk kamar mandi en nangkring di bath up sambil telpon-telponan deh. Please, walaupun nangkring di bath up daku sungguh berbeda dengan bintang iklan kartu GSM yang saat itu kami pakai, yang nangkring di pohon tuh...;-p

Menu breakfastnya juga lebih mantap di hotel pertama. Aaaah...untungnya sih gak ada angket or quis’ner penilaian hotel tersebut. Kalau ada bisa ancur dah tuh nilai yang daku kasih! Hhhmmm...kalau secara pribadi sih sebenarnya staff hotel-nya sama seperti masyarakat Pontianak kebanyakan, helping ...namun sebaiknya level kecepatan kerja-nya harus pada di tingkatkan deh! Salutnya sih selama di Pontianak saya nggak pernah lihat orang bersikap kasar.

 

Ibu Kota namun Bukan Pusat Wisata

Secara umum sebenarnya ibu kota di Indonesia merupakan sarana pariwisata. Makanya saya menyayangkan banget melihat kondisi Kraton Kadariah Kasultanan Pontianak dan Tugu Khatulistiwa yang potensi-nya tidak didongkrak secara maksimal.

Di Kraton Kadariah, kami ditemani oleh pengurus kraton yang menyambut kami dengan ramah, seorang ibu yang merupakan salah satu cucu dari Sultan ke-VI. Disalah satu kamar terdengar jeritan tangis bayi, cicit dari Sultan – menurut ibu tersebut yang mendampingi kami selama di kraton. Dari sini saya jadi “mengenal” desainer lambang negara kita, Garuda Pancasila yang sering nampang di kantor pemerintahan didampingi oleh RI1 dan RI2. Yang merancang adalah Sultan Hamid II, keluarga Kraton Kasultanan Pontianak...hhmmm,lumayan ganteng loh-pantes jadi aktor...hehehe...

Sama hal-nya seperti ketika saya bepergian ke suatu tempat, saya pasti meniatkan untuk kembali lagi suatu saat nanti. Insya Allah suatu saat saya kembali ke Pontianak – sekaligus laju ke Kuching  – Malaysia plus Brunei Darusalam melalui jalur darat. Selama di Pontianak kami berpapasan dengan kendaraan pribadi registrasi Malaysia, bahkan ketika keluar dari Kraton. Sempat juga berpapasan dengan bus umum Pontianak – Kuching yang nomer registrasi-nya luar negeri. Saya pikir ini merupakan hal langka, selain di Pontianak dan beberapa wilayah Kalimantan serta (mungkin) di Papua. Selama di Batam sih saya nggak pernah lihat kendaraan pribadi beregistrasi Singapore/luar negeri, kalau kendaraan pribadi build up sih beberapa kali lihat deh di Batam.

Sekarang saya siap – siap untuk packing lagi....Kemana???? Hhmmm...nyoba kereta eksekutif baru...heheheh...nggak ngerti deh sampainya kemana ;-p

Monday, March 9, 2009

Dari Boeing 737 - 300 GA ke Angkot

Menanti lebih dari 5 jam di bandara bukanlah masalah yang berarti bagiku. Jangankan hanya 5 jam, menginap di bandara-pun aku akan menerima nasib tersebut dengan hati gembira! Biarin deh dibilang gak punya kerja’an...hehehe...

Melalui pintu F4 Bandara Soekarno Hatta aku masuk ke ruang tunggu keberangkatan. Check – in di deretan counter penerbangan Garuda. Meluangkan waktu untuk apply Garuda Frequent Flyer, shalat di musholah menghadap pesawat Etihad yang sedang terparkir..serasa banget deh! Keluar dari musholah sempat berpapasan dengan Mendiknas Bapak Bambang Sudibyo yang pastinya juga mau pergi dengan pesawat Garuda.

Nggak terasa ternyata setengah jam lagi daku harus masuk pesawat terbang....duh begitu cepat waktu berlalu, padahal daku lagi mikir-mikir untuk memberikan “surat cinta” kepada sang Kapten. Tetapi mengingat penerbangan yang akan aku tempuh hanya 1 jam 10 menit mendingan nggak usah aja deh.

Dari pintu F6 daku masih harus berjalan lumayan naik turun tangga nggak jelas, dilanjutkan naik bus menuju terminal lain, dan kemudian naik ke pesawat melalui garbarata. Hiiih, berasa naik busway!

Daku benar – benar menikmati penerbangan kali ini. Penerbangan pertamaku ke Pontianak Kalimantan Barat. Cuaca cerah, hamparan awan laksana membentuk Padang Masyar nan terhampar tak berbatas.Makanan yang disajikan oleh pramugari langsung aku lahap, nasi goreng dengan buah pepaya, jeruk serta melon. Daku meminta freshmilk kepada ibu pramugari. Usai makan, masih ada sisa waktuku untuk melihat – lihat aneka barang dagangan yang tercantum di buku inflight shoping. Ada beberapa barang yang ditawarkan menarik perhatianku, antara lain USB Cup Warmer yang berfungsi menghangatkan kopi dengan koneksi USB dari komputer/laptop yang kita gunakan. Kemudian AVIATOR Gents Pilot Multi Time Zone Watch @ Rp 1.550.000 ,-. Ada Estee Lauder Bali Dream EDP Spray 50ml seharga @ Rp 600.000 ,-...ini khusus dijual di Garuda Inflight Shoping or dijual di semua counter Estee Lauder yak? Daku naksir Davidoff Advanture EDT 50ml deh, maksudnya naksir botolnya...en soal wanginya belum jelas, tapi belasan tahun yang lalu daku en my partner memang pengguna parfum/EDT Davidoff seh....

Saat descent and prepare for landing daku merasa kuping dan kening sebelah kanan sakit...hhhmmm gak biasanya gini! Tetapi daku tetap menikmati trafic pattern yang dilakukan oleh sang penerbang. And begitu pesawat menyentuh runway....wwwuuuiiiihh “Caaannntttiiiikkkk...eh Subhanallah.” kalimat itu terlontar dari mulutku. Nyesel gue gak jadi nulis “surat cinta” ke sang kapten!

Di bandara Supadio terparkir helicopter yang terbungkus, Indonesia Air Transport jenis ATR di parkir 8. Hanya berselang beberapa menit dari pesawat PK-GHW yang aku naiki terparkir, menyusul Airbus A319-nya Batavia Air. Benar – benar dapat dihitung dengan sebelah jari tangan berapa pesawat terbang yang berada di bandara Kalimantan Barat ini.

Keesokan harinya koran - koran di Pontianak memuat headline tentang pesawat Batavia dari Jakarta yang ingin mendarat ke Pontianak en muter-muter di Ketapang sebanyak 8x. Andai salah satu penumpangnya adalah daku....wuuuiiih bangga banget dah gw!

Di terminal kedatangan daku menanti jemputan. Halaah telat neh...Mati kutu dah, mendingan waktu jadi anak hilang di Sydney dah! Setengah jam kemudian Mbak Lien muncul bersama sopir angkot! Ampun dah, Mbak Lien mencarter angkot dari Pontianak. Katanya taksi sulit dicari di Pontianak. Belakangan sih baru ngerti bahwa sebenarnya fasilitas kenyamanan untuk Mbak Lien sebagai pejabat (ciiieee...) dari pusat tersedia. Waktu mau ke airport pulang ke Jakarta sih kita diantar mobil yang dikendarai oleh orang dari Pemda Kalimantan Barat, naik Xenia merah bernopol KB.

Back to Jakarta daku nggak naik Garuda lagi, dan pastinya juga gak naik angkot! Daku dapet tiket promo Sriwijaya Air B 737 – 200. Pontianak – Cengkareng cuma Rp 334.000 ,-. Dapat 2 jenis snack dan air amidis gelas. Murah meriah selamat, walaupun pakai acara delay! Perjalanan ke Jakarta juga tak kalah indahnya, apalagi sempat menyaksikan sunset dalam posisi di atas awan juga.

Camera “kwaci”-nya Amel berulang kali daku pakai jeprat jepret selama penerbangan. Wuuuiii...rasanya daku sudah berada di pintu surga deh.  Ah penerbangan memang merupakan momen yang membahagiakan dalam hidupku. Rasanya dalam waktu dekat ini daku mau terbang lagi aaaahhh....hhhmmm kemana ya?!   
  

Sunday, February 15, 2009

Galuh ke Harvard

Impianku untuk segera menuntut ilmu di Harvard University diwujudkan (terlebih dahulu) oleh keponakanku, Galuh. Rencanaku memang sekedar menuntut ilmu dengan berbagai cara, bukan mengambil long course atau kuliah lanjutan yang memerlukan waktu bertahun-tahun.

10 February 2009 Galuh bersama dengan 8 mahasiswa UGM lainnya berangkat dengan pesawat Qatar menuju Doha dan dilanjutkan ke New York City. Setelah bermalam di New York barulah mereka melanjutkan ke Boston – dimana Harvard University berada. Di Boston selama 10 hari dia menginap di Radisson Hotel.

Ini bukan pertama kalinya Galuh ke USA. Ketika balita Galuh bermukim di Pitshburgh Pensylvania bersama kakakku dan kakaknya, Yudist – menemani ayahnya yang mengambil Master di Carnegie Melon University. Ketika itu aku juga nyaris menuntut ilmu di Pitshburgh University (Gak perlu daku cerita gimana akhirnya gak sampai belajar disana! ;-D Hehehehe...pas Galuh pamitan nyokap juga sempet “protes”, katanya : “Dulu Anna juga harusnya sekolah ke Amerika nggak bayar....blablabla...”)

Siang sebelum berangkat Galuh mampir ke Pulomas mengendarai sendiri Altis-nya. (Pamit or nyari cemilan, Luh?! ;-p). Sebenarnya daku mau ikut ke airport, tapi sepertinya Innova-nya gak cukup karena 4 temannya dan luggage-nya segede “gaban”...ampun dah, 2 minggu aja seperti orang mau pindahan.

Meskipun menuntut ilmu di Harvard University merupakan impianku, tetapi daku senang banget karena yang mewujudkannya adalah keponakanku sendiri, gratis dan hasil seleksi yang ketat, plus membawa nama bangsa. Bersama 8 Mahasiswa UGM Galuh akan mengikuti ‘Harvard National Model United Nations 2009’. Galuh sendiri yang berasal dari Fakultas Ekonomi, en yang lainnya dari jurusan Hubungan International. Dulu sih Galuh juga diterima di UI Fakultas Psikologi Program Internationalnya .... tapi syukurlah dia malah ambil FE UGM-nya. Khan tetap memiliki akses international dengan mudah.

Tapi impian itu tetap tidak tercoret di daftar dong....sampai  siang daku minta agar ibu ngedoa’in. Iye soalnye emak gue tadi bilang katanya gue malah kagak pernah ke Harpard...langsung aja gue todong emak bedoa supaye gue bisa ke Harpard. Eh emak gue bilang katanye semue ortu pasti ngedoa’in anak supaye jadi anak baek dan selamet. Langsung gue jawabin aje,”Udah,Maaaak...kalu nyang ntuh mah udah. Buktinye daku jadi anak baek, en Alhamdulillah juga selamet-selamet aje. Nyang belon pan kuliah di Harpard. Doa’in daku ke Harpard ya, Maak....Daku perlunye ke Harvard sekarang....Doa’nye daku ke Harvard ye,Maaakk....” Daku sampai memohon ke emak. Emak mah cuma melongo ...tapi mudah-mudahan emak mendoakanku agar aku segera bisa menuntut ilmu di Harvard. Ammmiiiiinnnn......

En tanggal 14 daku sms Galuh : “Di Amrik valentinan dong...Skalian doa’in daku ke Harvard spt org naik haji minta dipanggil tuh.En segera beli oleh2 utk daku..hehe.”

Ngingetin dia aja sih...mudah2an oleh2nya bukan gantungan kunci kepala Obama ;-p Daku sih mintanya t-shirt Harvard University – dulu pernah dioleh-olehin sama emaknya – tapi kata Galuh kaos seperti itu udah banyak di ITC. Yeee...”aroma”-nya khan beda, Luh ;-p

Monday, January 12, 2009

Dulu dan Kini Band Fave

Dapat tiket nonton Malam Penobatan Pemilihan Cewek ala Model salah satu majalah franchaise dari Amrik sono. Cara ndapetin tiket gratis caranya kirim data diri ke redaksinya lantas bagi yang beruntung bisa mengambil undangannya di kantor redaksinya.

      Daku termasuk ‘yang beruntung’ mendapatkan tiket tersebut, sedangkan Jeng Yuli nggak dapet. Entah apa kriteria untuk mendapatkannya. Yang jelas daku kebayang bakal cengok berat dateng ke acara seperti ini sendirian. Berasa kurang kerja’an, tapi mengingat yang bakalan manggung diantaranya JAVA JIVE dan Yovie ‘n Nuno jadilah daku bela-belain. Dua group musik favorit-ku kini dan 14 tahun yang lalu! Weeeesss...ternyata JAVA JIVE masih okeh loh! Gak kalah dah dengan grup band masa kini, bahkan lebih keren dah!

      Suatu gedung di dalam kompleks Hotel Nikko Jakarta. Bayangan cengok sebelum pertunjukan ternyata terjadi. Pengunjung tidak diperkenankan masuk ke ruangan terlebih dahulu, kecuali pers dan VIP. Hhhmmmm...daku sih merasa didiskriminasikan lantaran nggak dikasih goodie bag. Menyolok banget soalnya, yang lain pada bawa goodie bag segede gaban, eh daku lenggang kangkung gituh. Mau ngomel juga lucu aja karena ngomel-ngomel sendirian. Kalau gak inget 2 grup band yang akan tampil seh mendingan daku kabur pulang. Untungnya Prince of Frog menelpon aku dari Surabaya, walaupun nelponnya juga sambil ngeledekin lantaran daku dateng ke acara ‘gambreng’ gituh sendirian.

      Jam 7 lebih banyak kami dipersilakan masuk ke ruangan yang gelap, namun di dinding ditata lampu ala bintang berkelip serta ruangan seperti dalam hutan – full dengan suara jangkriknya. Daku dapat duduk di sisi kanan panggung, berseberangan dengan Nadine Candrawinata,Julia Estelle, Karenina...en beberapa public figure lain.

      Penampilan pertama : “Inikah gerangan cinta....” huuuuiiii...daku histeris dalam hati begitu JAVA JIVE muncul.Mau teriak-teriak juga susah, penonton boleh deh bajunya pada nyablak...namun gaya menonton benar-benar di jalan yang lurus dan benar. Disusul lagu ‘Kau Yang Terindah’ penonton masih aja stay cool....hhiiiih. Daku nggak tahan untuk melenggok – lenggokkan badan, bergaya ala Maudy Kusnaedi di video klip lagu tersebut yang seringkali tayang dan menjadi hits di sekitar tahun 1994. ‘Kau Yang Terindah’ salah satu ‘lagu kebangsaan’ sebagian mahasiswa mahasiswi Indonesia di New Zealand.”Kau yang disana terpisah jarak waktu...aku disini merindukan bayangmu....”

      Oh iya, saat lagu ini dinyanyikan maka 12 finalis berjalan di stage. Fashion show, tentunya – bukan main bola dengan 1 pemain cadangan ;-p

Setelah JAVA Jive menyelesaikan lagu-nya, MC : Ayu Dewi (FFF 2006) dan Melaniy Ricardo muncul di stage, memperkenalkan dewan juri yang berjumlah 9 orang. Kemudian JAVA Jive tampil kembali membawakan 2 lagu dari album teranyarnya. JAVA Jive selesai nyanyi, Dewi Sandra muncul. Ngapa’in Dewi Sandra muncul? Nyanyiiilllaaaahhh, mosoq maen debus ;-p Seperti biasa gayanya dengan para penari latar jungkir balik yang bagi orang yang nggak terbiasa sih bakalan bikin keseleo. Atraktif sih, tapi bagiku yang hanya beberapa meter duduk dari mereka jadi risih melihat aurat mereka yang ‘over expose’ itu. Lagu berikutnya, I.L.U...(eh itu mah lagunya Afgan!), maksudnya I Love You yang energik.

      Penjurian finalis dengan tanya jawab di stage, pastinya di depan public. Jujur aja deh, daku merasa nggak sreg dengan jawaban para finalis (Weeeiii...juri-nya bukan elu, An! ;-p). Tapi demen juga sih ndenger jawaban mereka yang hancur total tapi mereka jawab dengan yakin-nya! Mudah-mudahan sih karena faktor ‘belum matang’ aja deh, karena aku lihat justru celetukan-celetukan Sang MC yang keduanya merupakan alumni ajang ini terdengar cerdas tanggap walau terkadang ‘ngawur’, ngawur yang nggak hancur...hahahaha.

      Oh iya, penampilan Yovie ‘n Nuno yang paling daku tunggu. Lagu pertama yang dikumandangkan adalah : ‘Dia Milikku’ feat.Dewi Sandra. Dilanjutkan lagu yang kata Yovie terinspirasi dari Aa’ Gym (Gue gak tauk dah si Yovie ngomong ini becanda or beneran.), Menjaga Hati....’Biarlah aku menjaga perasaan ini ...ooo..menjaga sepenuh cinta yang engkau beriii...Engkau pergi aku tak ‘kan pergi...Kau menjauh aku tak ‘kan jauh...Sebenarnya diriku masih mengharapkanmu...’. Melihat penonton yang ‘menjaga suara’ Dikta ngomong,”Mana nih suaranya??? Nyanyi sama-sama yuuuk...”, en Yovie sampai nyahutin,”Biarin aja deh, nyanyi-nya pada dalam hati aja...”...Iiiih, kalau daku saat itu yang jadi penyanyi-nya sih, bakalan tuh para penonton gue timpuk pakai microphone (Makanya Tuhan belum ngizinin elo jadi penyanyi top, An...niat loe udah ketahuan seh?! ;-p)

      Finalis tampil menggunakan busana malam (yang bukan piyama or daster) berwarna putih diiringi alunan ‘Janji Suci’-nya Yovie ‘n Nuno. Soal lagu ini, setahun yang lalu daku merasa ‘biasa aja’ terhadap lagu ini – bahkan Yanti udah ‘maksa-maksa’ supaya aku suka, tapi tetap aja ‘biasa aja’...eh akhir-akhir ini kok jadi suka yaaa?? hehehe...telat banget!

      Ketika pemenang diumumkan ternyata ‘tebakan’-ku nggak meleset, tetapi bukan berarti daku menjagokan yang menang loh. Tetapi daku seh gak mau menilai or berpresepsi karena keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat. Daku sih berhak aja nggak sreg dengan pemenangnya, tapi apa gunanya seh sreg or nggak sreg?! Hehehe...yang penting daku hepi-hepi aja waktu keluar ruangan diiringi Yovi ‘n Nuno dengan Juwita-nya.Serta dipintu keluar daku baru dikasih goodie bag yang langsung daku ucapin,”Sisaaa niii yeee....” (hus! Bersyukur loe masih kedapetan!)


*Poto diambil dari web majalah penyelenggara. Bukan yg juara utama yang daku ambil...yang wajah khas Indonesia dgn pakaian gak seksih2 amat dah yang dipasang ;-)