Showing posts with label jateng. Show all posts
Showing posts with label jateng. Show all posts

Friday, July 24, 2009

Hotel Manohara Magelang




Saat media banyak menjadikan ‘Manohara’ sebagai subjek berita, saya menjadi teringat akan sebuah hotel di Magelang yang kami inapi ketika liburan paska lebaran 1430 H, tepatnya 3 – 4 Oktober 2008. Ketika itu saya sempat menanyakan apa arti nama ‘Manohara’, ada yang menjawab bahwa Manohara adalah nama burung – seperti layaknya nama Cendrawasih dan ada pula yang menyatakan bahwa Manohara adalah nama tokoh yang ceritanya terdapat dalam relief candi Borobudur. Kalau sekarang sih saya ngertinya ‘Manohara’ itu salah satu judul sinetron di tipi....huuuu....;-p

Menginap di Hotel Manohara Magelang membawa kesan sendiri bagi saya, dikarenakan hotel milik pemerintah setempat dan berbintang 4 ini merupakan satu-satunya hotel yang berada di dalam the Borobudur Archaelogical Park. Petugas hotel (mirip Tora Sudiro euy!) yang membawa tas/koper kami ke kamar menjelaskan kepada saya bahwa Amanjiwo Resort, tempat bermalamnya para mega selebrities dunia tidak seberapa jauh dari kamar kami. Memang tidak terlihat, apalagi ketika itu hari sudah gelap. Petugas itu menceritakan juga bahwa David Beckham dan sang istri yang mantan personel Spice Girl sempat “bocor” berita-nya saat akan berkunjung kesana. Dan sang pemain bola tersebut “selundupkan” ke terminal cargo oleh orang-orang di bandara karena “kebocoran” berita tersebut ke public. Yup...para mega bintang dunia itu memang seringkali mengendap di sekitar Candi Borobudur dikarenakan privasi-nya yang tidak mau terganggu, bukan saja mega bintang di dunia hiburan/olah raga, bahkan mendiang Lady Diana pernah menginap di group ‘Aman...’ yang bagi rakyat Indonesia umumnya membuat isi dompet menjadi tidak aman...hehehe....Tarif menginap di Amanjiwo ini paling murah Rp 7 juta untuk 2 orang ,sedangkan yang termahal US$ 2,600 ,- permalam! (Halooo...itu rates belum termasuk tax yak!).Saya-pun langsung nongkrong di teras kamar yang ‘menghadap’ resort tersebut, ketika kakak saya menanyakan apa yang saya lakukan disana...saya menjawab dengan cuek,”Lagi menghirup dan menikmati udara Amanjiwo....” Hehehe...belum sempat menginap disana, setidaknya sudah merasakan udara disekitarnya.

Saya, kakak + kakak ipar dan keponakan (berempat) makan malam di restaurant hotel Manohara. Suasana Jawa traditional terasa kental, model restaurant juga ala pendopo Kraton lengkap dengan karawitan-nya. View-nya??? Candi Borobudur mengintip kami yang sedang upper dinner....namun kami belum dapat menikmati kemistisan candi terbesar di dunia tersebut dikarenakan malam menghalangi pandangan kami. Baru-lah saat breakfast kami melumati keindahan lanskap sekeliling candi.


PAGI DI BOROBUDUR.
Usai shalat Shubuh Mas Tunggal, Mbak Lien, Sekar dan Seno bergegas mengejar matahari. That’s true! Mereka akan menikmati kebesaran-Nya dengan menyaksikan sunrise on the top of Borobudur. Borobudur belum dibuka bagi public, namun bagi tamu Hotel Manohara mendapat keistimewaan boleh berada di puncak candi disaat matahari belum muncul (Public/non tamu Hotel Manohara diperkenankan ikut dengan membayar Rp 250.000,-/person).Oh ya, malamnya dari theater hotel kami menyaksikan film mengenai Candi Borobudur. Sedangkan saya dan Mbak Rita lebih memilih menikmati sekeliling candi dari bawah. (Saya masih ingat benar berada di puncak candi Borobudur beberapa tahun yang lalu, walaupun bukan pada sunrise...hehehe, ingat panas-nya yang ampun-ampunan dan bergaya ala pemain film India tapi ‘ngojek payung’. ) Saat itu Mbak Ritha memang sedang mengalami masalah dengan kaki-nya, sehingga kemungkinan untuk mendaki candi sangat kecil. So kami berdua menyewa 2 sepeda yang disediakan oleh pihak Hotel Manohara. Kemana??? Mengelilingi Candi Borobudur tanpa “diganggu” orang lain.....!!! Berasa deh tuh candi kita yang punya...hihihi....Sepeda kami kayuh dengan santai. Kami singgah di kandang Gajah yang siang nanti akan “bertugas” di kawasan tersebut. Mereka masih menikmati makan pagi-nya. Kemudian kami menghentikan sepeda kami ke beberapa wahana di sekitar candi, diantaranya beberapa museum yang terdapat disana. Belum dibuka untuk umum, mereka masih bersiap-siap – namun dengan ramahnya mereka mempersilakan kami masuk dan melihat-lihat begitu mengetahui kami adalah tamu Hotel Manohara.
Dari kejauhan kami menyaksikan calon pengunjung Candi Borobudur yang belum diperkenankan masuk ke kawasan tersebut. Sangat ramai! Maklumlah libur lebaran, syawalan. Beberapa diantaranya melihat kami yang dengan santai-nya berkeliaran di dalam kawasan. Heran melihat tampilan kami yang dijamin bukan penampilan petugas dan bukan pula penampilan warga desa setempat, namun dapat wara wiri di dalam lokasi tanpa ada yang melarang. Mudah-mudahan sih mereka nggak mengira kami makhluk penampakan atau lebih kejamnya mengira kami adalah bagian dari ‘peliharaan’ atraksi kawasan wisata..hehehe...

Kami berdua kembali mengayuh sepeda ke arah Hotel Manohara. Meletakkan sepeda di depan lobby, dan langsung menuju tempat makan pagi.Breakfast sambil memandang keindahan Borobudur dan lanskap-nya. Menunggu mereka yang baru turun menyaksikan sunrise. Tak lama mereka muncul dan bergabung bersama kami berdua.

Selesai breakfast saya dan Mas Tunggal berkeliling sekitar hotel sambil mengamati aneka tumbuhan yang ada disekitar kami, ada pohon Bodie – yang dianggap keramat bagi umat Budha, dan ditanam oleh ‘orang-orang khusus’ serta pohon Maja yang buahnya mirip buah Semangka namun tidak diperkenankan dimakan. Kata-nya buah ini yang ‘disumpah2in’ oleh Gajah Mada, yang menyatakan ogah makan buah ini sebelum Nusantara bersatu. Masaq iya seh???!! Ada juga pohon bunga yang sebelumnya tidak pernah kami temukan di tempat lain, bahkan ketika kami meminta penjelasan orang disekitar sana mereka tidak mengetahui nama bunga-nya. Dengan meminta izin, kami membawa beberapa bibit bunga tersebut untuk dibawa dan kami tanam di Jakarta. Bahkan kami juga membawa beberapa buah Maja. Bukan maksud kami merusak loh, justru kami berniat menanam dan mengembang biakkan tanaman-tanaman tersebut di sekitar tempat tinggal kami.
Siang itu kami kembali ke Jogjakarta, menjemput ibu di rumah Galuh dan langsung menuju ke Semarang (lewat Magelang lagi deh!) – singgah sebentar di Eva Coffee House.....( http://odysseygemini.blogspot.com/2008/10/eva-coffee-house-jawa-tengah.html ) dan malam ini kami terlelap di Grand Candi Hotel, hotel berbintang 5 di Semarang.

Monday, January 7, 2008

"On The Way Travel" ;-D

Breakfast di Malabar Resto yang terletak di Lt.4 Hotel Horison Semarang. Menunya kaya variasi, karena memang ini keunggulan Horison Semarang dibandingkan Horison di beberapa kota Indonesia. Nasi liwet, Dim Sum, Ayam Panggang, Bubur Ayam, Spaghetty, Sandwich, Sapi Lada Hitam, Ikan Tenggiri Asam Manis....aaaah pokoknya banyak banget deh! Selain prasmanan juga digubug-gubugin seperti kalau datang kondangan gituh deh. Selama daku makan dari hotel ke hotel sepertinya breakfast kali ini termasuk variasi menu-nya oke. Setelah breakfast langsung kita kabur ke kamar 713. Pagi itu Mas Tunggal dan Mbak Rita mau ke Mlati Hardjo dulu untuk ketemu Mas Edy. Ely ikutan pulang. Daku en Sekar nonton Amazing Race Asia di AXN ajah sambil nunggu waktu check out.

Jam ½ 2 kami check out. SMS ke Bang Ronald dulu : “Aku udh check out dan mau keluar dr Smrg.Mlm ini mungkin aku nginep di Cirebon,jd no.esia ini gak tpakai lg ya.Kabaqr2i aku soal Mb Henny ya klau ktemu.Trimaksh.” (Repotnya Pakai esia Mode : ON). Praktis selama di Semarang hanya Bang Ron ngehubungi CDMA-ku.

OLEH – OLEH KHAS SEMARANG

Kami ke Jalan Pemuda, seberang Sri Ratu untuk membeli Lumpia “Mbak Lien”. Harga lumpia-nya @ Rp 7,000 ,- boleh pilih yang basah atau goreng. Rasa rebung-nya bikin daku jadi sering kangen dengan lumpia Semarang. Dari Jln Pemuda kami meluncur ke salah satu jalan (waduh lupa nama jalannya!) untuk membeli Ayam Tulang Lunak yang juga khas Semarang. Tak lupa kami ke Jln Pandanaran yang banyak menjual oleh-oleh khas Semarang. Pedagang kaki lima sampai toko – toko menjual lumpia, wingko babat, Bandeng duri lunak dan aneka makanan lainnya. Lumpia di Jln Pandanaran banyak juga yang harganya lebih murah.
“Urusan” di Semarang beres, kami meninggalkan kota Semarang. Rencananya sih February daku balik ke kota ATLAS ini lagi.

SHOPPING DARI BATIK SAMPAI “EMBER”

Mas Tunggal menyetir mobil dengan santai. Emang sengaja jalan santai. Melihat deretan kios duren di Kabupaten Batang membuat mobil berhenti sejenak. Mau makan duren dulu. Tetapi sayangnya duren yang kami makan tidak semanis duren yang kita lahap di Jepara. Oh iya, waktu di Jepara kami makan duren di Jln Jend.Hoegeng Imam Santoso (Daku baru menemukan nama beliau dijadikan nama jalan. Saat beliau meninggal dunia 3 tahun yang lalu aku sempat melayat di rumah keluarganya di Pesona Khayangan Depok. Kebetulan anak bungsu dan cucu-nya satu sekolah denganku. Saat ayah-ku meninggal dunia beliau juga melayat ke rumahku, dan kami memiliki satu lukisan hadiah dari beliau.). Di Jln Jend.Hoegeng Imam Santoso ini pula terdapat monumen berbentuk duren. Memang Jepara juga kota penghasil duren.

Di Pekalongan kami “tergoda” mampir ke salah satu toko batik yang besar. Daku sempat naksir batik seharga Rp 22.500 ,-. Murah meriah, warnanya juga funky dan yang pasti gak bakal ada saingannya kalau kita jalan2 ke Paris – Milan or New York! Eh tetapi justru Sekar yang beli rok batik berwarna hitam. Sampai di Pasar Batik Setono – Pekalongan daku justru “meringis2” karena batik yang aku taksir di toko tadi tidak ada di pasar ini. Selama perjalanan hape memang aku silent total, tp kali ini aku berhasil menjawab panggilan telepon dari Mbak Hen yang juga lagi plesiran di Blitar. Mbak Hen baru besok ke Surabaya dan janji mau bertemu dengan Mas Al dan Bang Ron sebelum Mbak Hen balik ke Singapore.

Alhamdulillah akhirnya daku bisa membeli baju “you can see”. Kalau dilihat sekilas motifnya tidak kelihatan seperti batik, tapi itu batik kok.

Perjalanan dilanjutkan setelah kami shopping batik Pekalongan. Dinner kali ini kami memilih satu resto bernama : D’Pawon Seafood & Fastfood di Jln Kolonel Sugiyono – Tegal.Tempatnya asyik, resto tapi terbuka gitu deh, pengunjungnya juga kebanyakan bermobil pribadi dan family...namun pelayanannya luuuaaaammmaaaa. Kami hampir mati lemas kelaparan euy! Kasihan juga sih sama mbak yang ngelayanin karena menurutnya teman2nya lagi pada pulang kampung dan saat itu pengunjung sedang banyak. Orang Tegal pulang kampungnya kemana yak?! Rasa makanan sebenarnya lumayan enak, apalagi nasi bakar yang daku pesan. Gurih dan wangi. Nasi bakar tersebut digulung di dalam daun pisang, sebelumnya dikasih bumbu dan kemudian dibakar.

Awalnya Mas Tunggal mau laju dan istirahat di Cirebon, tetapi Sekar, Mbak Rita dan daku lebih memilih kami istirahat di Tegal. Jadilah kami malam itu check in di Hotel Pasific (*3). Walau hanya berlantai 3 hotel ini memiliki lift yang tembus pandang, baik pintunya maupun “dinding” disekitarnya sehingga kalau kita berada di lift kita dapat melihat jalanan, dan orang di jalan juga bisa melihat kita. Hotel berbintang 3 ini baru ada 3 tahun yang lalu. Pelayanannya top banget deh, bahkan petugas-nya cepat tanggap, khususnya petugas saat kami breakfast. Seno saja komentar,”Harga minimum pelayan maksimum!”. Rate menginap disini nggak sampai Rp 300.000 ,-/malam. 200ribu aja sih lebih! Kamar AC, TV Cable...nggak kalah deh dengan hotel bintang 3 di kota besar. Bahkan ada Karaoke dan Mini Theater-nya pula. Room service-nya muraaaahhhhh, masih banyak yang dibawah Rp 30.000 per-porsi makanannya. Usai breakfast dengan kepuasan tersendiri kami check out.

Mampir Brebes untuk beli telor asin khas Brebes. Telor asin zaman sekarang variant-nya juga macem-macem. Bayangin dah...ada Telor Asin Rasa Udang! Konon itu telor dari bebek yang makanannya udang. Wuuuiiiihh...kalau tuh bebek makanannya gado-gado mungkin rasa telor asinnya juga rasa gado-gado dong? Kata Mbak Rita di televisi pernah ada info tentang telor asin rasa jeruk atau strawberry loh. Lucu juga ya, kalau mau telor asin rasa jeruk or strawberry bukannya lebih enak makan buah jeruk or strawberry-nya sekalian???

Mbak Rita beli Telor Asin Rasa Udang dan daku beli Telor Asin Bakar. Perjalanan berlanjut ke arah Kuningan. Kami tidak melewati jalur Utara karena mau nengok lokasi wisata pemandian air panas dan spa di Kuningan.

KUNINGAN – SUMEDANG

Siang hari kami tiba di Kuningan. Mbak Rita ingin melihat Grage Hotel Spa yang seringkali diliput oleh media. Namun belum sampai lokasi kami tertarik dengan satu area, yakni Resort Prima Sangkanhurip.Di resort ini terdapat Perkampungan Wisata Cilimus 1928 yang merupakan replika perkampungan Kuningan di tahun 1928. Yang sejarah Indonesia-nya jago pasti ngerti deh “apa dan bagaimana” Kuningan di tahun 1928. Perjanjian Linggar Jati masih ingat dooonnnggg...Pelajaran SD gitu looohh....

Kami menanyakan roomrate menginap di resort tersebut, dengan tekad liburan mendatang kami menginap di sini. Suasana khas Indonesia-nya asyik banget!

Barulah kami menyusuri jalan Sangkanhurip, yang diujungnya terdapat obyek wisata Sangkanhurip Alami. Pemandian air panas dengan harga terjangkau. Kami hanya melewati obyek wisata tersebut, berbelok ke kanan...dan barulah mampir ke Grage Sangkan Hotel Spa yang memproklamirkan diri sebagai ‘The Best Aquamedic Spa in Java’. Daku dan Mbak Rita sempat masuk ke area spa yang air-nya kehijauan dan hangat. Dia atas kolam renang biasa (Teratai Pool Side) telah berdiri panggung dan disekitar kolam renang juga sudah tersusun meja dan kursi untuk acara tahun baru nanti malam. Hotel tersebut mengadakan : ‘New Year 2008 Hawaiian Nite’ – dinner – live band – dance – hawaiian dance. Kenapa nggak menampilkan perayaan khas Indonesia aja siiiiiihhh??????

Perjalanan berlanjut. Di sepanjang jalan kami melihat penjual ember. Toko makanan menjual ember??? Untungnya Mbak Rita “cepat tanggap, ingat bahwa itu adalah salah satu oleh-oleh khas Kuningan yang pernah diceritakan temannya. Tape ketan dibungkus daun jambu yang kemudian dimasukkan kedalam ember! Karena Mas Tunggal juga senang dengan tape, kami-pun berhenti dan membeli ember, eh makanan khas tersebut. Aku bilangnya,”Beli tape gratis ember!” hahaha...

Mobil melaju ke Sumedang. Kotanya penyanyi Rossa, yang kebetulan saat kami sampai di Sumedang tape di mobil lagunya “Atas Nama Cinta”. Kami lunch di ‘Rumah Makan Joglo Sumedang’ yang baru dibuka 3 hari dan bangunannya keren banget, rumah Joglo ala Kraton. Kami makan di gazebo yang berada di pekarangan bangunan. Kami pesan makanan khas-nya Ayam Goreng Spesial Bumbu Kraton.Ckckck...koleksi mobil antik owner-nya okeh banget looowwhh ;-)

Suasana akan tahun baru mulai daku rasakan lagi ketika sudah banyak sms masuk ke hape-ku mengucapkan selamat tahun baru. Pak Aswin,  direktur Finance di salah satu BUMN juga sudah mengirimkan sms ke aku. Duh, Pak...maafkan “anakmu” yang kurang ajar ini. Selalu kedahuluan jika ingin mengucapkan selamat ke bapak. Salut daku sama beliau, direktur BUMN ,kerjanya keliling dunia bahkan sampai naik Concorde saja pernah tapi low profile-nya ampun-ampunan.

Jam 7-an malam Mas Alief, leader-ku di Surabaya mengirim sms agar aku membuat keyakinan pada tengah malam nanti mengenai peringkat-ku di Konvensi Nasional tanggal 23 Agustus 2008 di Hailai Restaurant. Yup lebih dari 20 tahun aku melewati tengah malam dengan hingar bingar kemewahan tahun baru, merayakan di hotel mewah, pesta bahkan di Bali seringkali aku lakukan. Oleh karena itu malam ini aku mau mengadakan resolusi 2008 dalam kelelapan malam. Walaupun disekitar rumah Sekar udah jedar jedor kembang api! Bentaaar-lah lihat kembang api.

Thursday, January 3, 2008

Travel Akhir Tahun 2007

Jangan tanyakan kemana daku melewatkan malam tahun baru, karena justru akhir tahun daku melewatkannya kemana-mana. Lewat Cirebon, lewat Brebes, lewat Pekalongan...dan malam tahun baru daku melewatkannya di dalam perjalanan tol Bandung – Cimanggis sambil menikmati Ice Coffee gratisan dari Excelso Rest Area Km.62. Ssssrrrrruuuupppp......dan kopi itu melewati tenggorokanku!

SEMARANG, Si Pesona Asia
Dua hari pasca Christmas Mas Tunggal mendadak mengajak ke Semarang. Dua jam sebelum keberangkatan, jadinya hari itu aku cancel rencana hari itu ke Synergy bareng Dian untuk menemui Pak Ali dan Dr.Roy. Ke Semarang juga mau nganterin
brosur Synergy ke Ely and kalau memungkinkan bikin home meeting di hotel sekalian. Jadilah siang itu daku bersama Mas Tunggal keluarga dan sopirnya (yang Art Director film Ca Bau Kan – real!) berangkat ke Semarang. Terlebih dahulu makan sore di Rest Area Km 57, RM Padang Sederhana. Di sana aku sms Ely supaya mempersiapkan materi untuk pembahasan Synergy nanti malam.

Shalat Maghrib di rest area toll Kanci Cirebon dan makan malam di KFC Pasifik Mall Tegal – Jawa Tengah, sekalian daku beli pulsa GSM dan Mas Tunggal beli 3 kaset. Wuuiih udah ada KFC, Es Teller 77, Pizza Hut, Dunkin, M Studio, Naughty and Guardian. Tegal sudah bertabur franchise business rupanya ;- Kenapa nggak ada  kedai teh poci  khas Tegal seh???!!!!
Barulah jam 11 lewat kami sampai di rumah Semarang.

Paginya Ely baru nongol di depan hidungku . Kami sudah siap – siap berangkat ke Jepara, kota Kelahiran RA Kartini si Pahlawan Emansipasi Wanita. Aku langsung menyodorkan chlorophyll ke Ely. Kebetulan Mbak Rita ngajakin Ely juga, jadi Ely bisa sekalian ikut. Daku gak enak ati kalau yang ngajak daku karena kakinya Mbak Rita khan dalam masa recovery jadi tempat duduk di mobil harus leluasa. Jam 8-an Tavera melaju menyusuri “Little Netherland” yang jadi salah satu obyek wisata unggulan Semarang, start dari yang paling ujung Hotel Raden Patah (Budgeting Hotel – Backpacker Clas yang dulu pernah masuk list Lonely Planet), Kantor Polisi, Gereja Blenduk, dan berderet bangunan peninggalan Belanda yang seringkali dijadikan shooting film.
Terlebih dahulu kami check in di Hotel Horison (*4) kawasan Simpang Lima Semarang.

JEPARA, Kotanya Ibu Kita Kartini (Jum’at, 28 December 2007)
Hanya meletakkan travel bags kemudian lanjut ke Jepara, melewati Demak tetapi nggak lewat Kudus. Makan siang di RM.Ismun Jln Margoyoso yang kecapnya khas. “Bentuk” kecapnya seperti madu dan rasanya manis banget. Setelah lunch kami hunting furniture ukiran Jepara yang showroom-nya berderet di sekitar Jepara. Masih banyak yang tutup. Mbak Rita dan Mas Tunggal yang sedang merenovasi rumah  berencana membeli jendela yang berukir khas Jepara. Salah satu showroom mengaku kalau dia-lah yang mendesain ukiran interior rumah Probosutedjo, artis Roy Marten dan beberapa seleb lainnya, bahkan juga mendesain rumah Joglo Jawa Tengah lengkap dengan ukiran-nya untuk dikirim ke Pulau Karibia. (Awas loh kalau Malaysia sampai ngaku’in ukiran Jepara di resort mewah Karibia asalnya dari Malaysia!!!!).

Kami sempat mampir ke dermaga Pantai Kartini. Dari pelabuhan ini-lah kapal Karimun membawa penumpang ke Pulau Karimun Jawa. Ombak terlihat begitu liar, angin juga bergemuruh. Hal itulah yang membuat kapal Karimun sudah dua hari tidak beroperasi. Daku sih sempet berfoto ria di depan kapal tersebut. Ini salah satu impian daku dan Tary, visit to Karimun Jawa sambil mencari inspirasi novel. Bahkan Ratih Kumala, si penulis novel Tabula Rasa yang bukunya masuk dalam list “The books must read before die” ngerengek minta ikutan kami berdua. Hahaha...

Di Jepara sempat diminta Ronald untuk menelponnya karena ada hal penting yang harus dibicarakan. Duuuh, Bang, daku lagi di pinggir sawah nih....pulsa gak cukup untuk nelp ke Surabaya. Lah, hape aja daku silent total.Untungnya sih Ronald nelpon duluan. Emang deh, bisnis itu harus dilakukan dimana saja dan kapan saja dan oleh siapa saja. (Chlorophyll is better than Coke...hahahaha)
Sore kembali ke Semarang, ke Hotel Horison. Malamnya kami makan di salah satu rumah makan yang bikin Sekar nggak napsu makan dan akhirnya malamnya harus beli makanan lagi di Pizza Hut yang masih satu area dengan hotel. Hotel Horison Semarang “layout lokasi”-nya mirip dengan hotel – hotel yang ada di Sing
apore.      Aku en Sekar sempat foto di depan Santa Claus yang terbuat dari permen, dan itu merupakan Santa Claus dari permen terbesar di Indonesia. Pakai masuk MURI segala. Setelah itu permennya nggak boleh dimakan. Duuuhhh...mendingan Santa Claus-nya membagikan permen-permen itu ke anak fakir miskin aja kali yaaa....Jadi masuk MURI-nya : Santa Claus Membagikan Permen Terbanyak ke Fakir Miskin & Korban Banjir Jawa Tengah. Sepertinya itu lebih berguna dan secara Corporate Sok-sial Responsibility juga okeh!


MRAPEN – WATU GONG (Sabtu, 29 December 2007)
Setelah meninjau beberapa rooms yang rencananya mau aku bikin jadi meeting room or ruang aktifitasku untuk meluaskan network dan pasar di Semarang, aku en Ely menuju ke Dorang, warteg bersih yang ada menu andalanku, yakni telor ikan yang gede. Menu warteg ini  relatif lengkap dan lezat loh. Tempatnya juga bersih. Yang makan disini banyak yang bermobil pribadi. Mungkin seperti Warmo Tebet, tapi soal kebersihan dan kenyamanan tempat, daku lebih mantap di Dorang. Ini aja daku “bela-belain” nggak breakfast di Hotel Horison lantaran aku ingin menikmati menu  Warteg Dorang . Semula ingin dijemput pakai Tavera tetapi karena Seno main PS di hotel (playground Hotel Horison ada PS-nya) dan Mbak Rita creambath di salon mall hotel, jadinya selesai makan daku en Ely berbecak ria ke Hotel Horison. Satu moment bahagiaku adalah naik becak! Hal langka yang bisa terjadi di Jakarta.

Dari Hotel Horison kami menuju arah Grobogan. Eh udah naik mobil yg dikemudikan Mas Tunggal, bukan naik becak. Kasihan banget tukang becaknya kalau daku minta anter ke Grobogan. Niat awal ke “miniaturnya Sidoarjo”, tetapi karena hujan lumayan deras, akhirnya kami berbelok ke Mrapen yang terletak di pinggir jalan Raya Semarang – Purwodadi Km.36. Melongok peninggalan Sunan Kalijaga, yakni : Api Abadi, Sendang Dudo yang airnya mendidih namun tidak panas dan batu bobot yang sebenarnya merupakan landasan salah satu tiang kerajaan Majapahit yang ingin dibawa ke Demak namun karena berat jadinya ditinggal oleh Sunan Kalijaga, daripada menghambat perjalanan gitu loh!

Api Mrapen ini yang api-nya diambil untuk obor pesta olahraga, dari Ganefo tahun 19963 hingga PON IV 1996. Sayang banget deh area Mrapen ini kurang terawat. Bahkan pengunjung  hanya kita. Ada sih cowok – cewek pendatang. Mereka berdua masuk dalam bilik Batu Bobot, kata penjaga warung tempat aku beli teh botol di dekat situ katanya kedua orang tersebut berdoa, dan banyak yang “ngalap berkah” di Batu Bobot. Daku sempat diledekin Mas Tunggal,”An, nggak usah malu-malu tuh....katanya mau minta supaya dagangan-nya laku keras!”

Hahaha...supaya dagangan laku keras mah gelar aja dagangan di alun-alun taon baru’an nanti, bukan berdoa di depan/dekat batu gituh. Lah Sunan Kalijaga ajah sampai ninggalin tuh batu, trus kenapa kite justru “nyembah-nyembah” tuh batu. Nyembah Hajar Aswad yang udah jelas di Rumah Allah aja udah masuk kategori musyrik, apalagi batu lain. Wait...wait...soal ini mah daku pendapat pribadi aja yak, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap toleransi kepercayaan sesama mahkluk ciptaan-NYA.

Dalam perjalanan kami sempat lihat warung dengan spanduk yang menyeramkan loh. Spanduk bertuliskan dan bergambar : ular, biawak dan kodok, tulisannya : Extrem Kuliner. Hiiii...lihat spanduk dan warungnya aja serem gituh. Kalau kita masuk ke warung itu mungkin kita akan lihat ular lagi ngejar-ngejar kodok??! Trus biawaknya tepuk2 tangan ngasih suporter.Nggak sampai 5 km dari warung itu aku melongo lagi membaca spanduk di warung berikutnya, salah satu menunya : Rica Rica Kuda! Waaaw, ternyata Grobogan banyak menawarkan aneka kuliner “ajaib”, dan yang menawarkan adalah warung sekelas kaki lima – bukan restaurant atau rumah makan permanent.

Dari Mrapen kami sempat mampir ke salah satu perumahan baru di Semarang. Ada sih niat punya rumah pribadi di Semarang, yang lokasinya keren dan nyaman. Setelah itu kami meluncur ke Semarang atas, tepatnya ke Watu Gong. Artikel dan foto lengkap mengenai Watu Gong akan aku upload di MP kalau sudah dimuat di media cetak dulu yaaaa......

Dinner hari ini di Kampung Laut Suki, restaurant unik pinggir laut sekaligus tempat rekreasi di Utara Semarang. Soal tempat ini lebih lanjut...nanti daku review. Hehehe...pokoke menu dan tempatnya mantap!

*Dan keesokan hari-nya kami bertolak dari Semarang. Melakukan “On The Way Travelling” (halah..istilah apa’an pulak!?) Kalau dibikin artikel lagi bakal panjang, so nanti aku tulis lagi ah. Foto sebagian juga akan Anna upload, sebagian sih tunggu setelah dimuat di media cetak ajah. Banner diatas adalah banner website-nya pemerintah Semarang.

2008 daku bakalan banyak mobile nih, menyusuri setiap sudut negeri tercinta. Menjadi saksi bahwa Indonesia-ku kaya akan seni dan budaya agar tidak diakui oleh bangsa lain. Indonesia, merupakan salah satu wujud cinta Allah kepadaku. Karena mobile itu nomer CDMA-ku akan beralih menjadi nomer yang banyak angka 8-nya. Jadi gak perlu ganti2 nomer ke tiap kota walau pakai CDMA.Kemaren sempet bete sama operator CDMA yang sudah 2 tahun ini aku pakai. Kalau untuk di Jakarta aja sih lumayan irit deh nelp pakai ini, tp kalau sering keluar Jakarta....nggak deh! Biarpun tuh operator ngejanji'in bakal ngasih duit kalau kita jadi "aktifis" user operator itu. Ngapa'in juga ngarepin duit 50 perak doang kalau gara2 teknis bisnis 50 milyar  melayang lantaran susah dihubungin?? Lagian ngapa'in juga bikin kaya raya orang yang udah paling kaya raya di Indonesia?