Showing posts with label perjalananreliji. Show all posts
Showing posts with label perjalananreliji. Show all posts

Monday, January 28, 2008

Astana Giribangun Suatu Hari

Astana Giribangun suatu hari di tahun 1999, aku turun dari mobil Corona setelah melewati jalan dari Jebres Solo ke area di kawasan Karanganyar ini. Dari parkiran suasana sunyi siang itu, mirip kompleks makan tak pernah dikunjungi peziarah. Memang sebenarnya disanalah kompleks pemakaman. Di dalam sana jasad first lady Indonesia terlama terbujur di tempat tidur abadi-nya.

Tak mantap aku berjalan menyusuri area parkir yang hanya diparkiri oleh mobil kakakku dan beberapa sepeda motor. Aku dan Mas Sentot menghampiri posko yang ada di dekat sana. Beberapa petugas menyambut kami dengan kehangatan khas Jawa. Aku hanya ingin melihat area makam first lady Indonesia yang ketika meninggal dunia saat aku sedang berada di New Zealand sehingga atmosfer duka tidak terlalu aku rasakan, justru aku merasa atmosfer duka saat Lady Diana meninggal dunia. Membayangkan bisa masuk ke area pemakaman pada saat itu?? Ah rasanya kesempatan itu tipis karena aneka berita mengenai ketatnya menyentuh area yang berkaitan dengan keluarga presiden negeri ini ke 2.

Aku juga pernah mendengar betapa “sulit”-nya kita diperkenankan masuk ke area Astana Giri Bangun. Oleh karena itu aku sempat tidak menyangka petugas disana menyambutku dengan ramah dan sopan. Mereka menawarkan aku masuk ke area pemakaman tersebut. Tentu saja tawaran itu tak kutolak. Selama masuk ke bangunan utama petugas pria berpakaian safari itu bercerita kepada kami (Aku, Mas Sentot, Mbak Naning, Asti, Ariel). Petugasnya ada 2 orang, dan salah satu-nya sepertinya khusus “mendampingiku”.

“Disini biasanya peziarah duduk menunggu giliran untuk masuk ke area pemakaman. Sebelum masa reformasi banyak sekali pengunjung hadir setiap hari, bahkan untuk masuk ke kompleks mereka menunggu giliran berjam-jam. Sedangkan sekarang hanya Mbak saja yang berziarah...” Bahkan banyak juga peziarah yang sampai menginap di sekitar kompleks Astana Giri Bangun sebelum masa reformasi tahun lalu. Setelah lengsernya Bapak Soeharto seakan banyak orang “takut” untuk datang ke area tersebut.

Bangunan utama, khas Jawa yang didalamnya terdapat jasad Ibu Hartinah telah dihadapanku. Aku memasuki pelatarannya yang dipagari oleh pagar tembok dan menapaki tangga sehingga kali ini dihadapanku pintu kayu berukir tertutup dan terkunci.

“Di dalam sini Ibu Tien dimakamkan?” tanyaku, dan disambut anggukan petugas dengan sopan.

“Mau masuk, Mbak?” lagi-lagi petugas tersebut menawarkan kepadaku. Aku terkesima. Bukankah yang aku dengar aneka prosedur harus dilalui untuk bisa “menyentuh” apapun yang berhubungan dengan keluarga Cendana??

“Boleh?”tanyaku lagi, kurang yakin sambil menatap petugas tersebut dan pintu berukir bergantian.

Petugas itu mengangguk.”Sebentar, kuncinya diambil dulu.” Kemudian petugas tersebut menyuruh petugas yang lainnya mengambil kunci dan meminta izin ke petugas yang tidak berada di dekat situ.

Aku melepas pandangan ke sekitar bangunan utama. Senyap, namun ada damai yang bukan kesunyian hati. Beberapa menit petugas yang tadi mengambil kunci membuka pinta besar berukir itu.

“Mari...silakan.” petugas yang satunya mempersilakan kami masuk dengan sopan, sedikit membungkuk dan mengarahkan tangannya ke arah nisan yang berjejer. Seingatku ada 2 – 3 nisan berjejer. Aku tidak ingat persis. Yang aku ingat hanya nisan makam Ibu Tien dan Ibunda Ibu Tien yang kedua fotonya terpampang jelas di dekatnya. Sedangkan disisi makam Ibu Tien ada jeda yang menurut petugas itulah pusara yang dipersiapkan untuk Bapak Soeharto, walaupun belum ada kepastian apakah mantan presiden kita itu dimakamkan disana atau di makam pahlawan.

“Assalamualaikum...” Perlahan aku sentuh nisan Ibu Tien dengan lembut, kemudian sejenak melantunkan doa kepada Allah SWT. Kami sempat berfoto dengan latar belakang nisan beliau (Yang sayangnya foto tersebut sepertinya hanyut/rusak saat rumahku kebanjiran). Kembali sejenak aku memperhatikan sekeliling area makam tersebut sambil menunggu Mas Sentot dan Mbak Naning mengobrol dengan petugas lainnya. Petugas yang mendampingiku kembali bercerita. Ada kalimat tersirat yang aku tangkap bahwa dana pembangunan area makam tersebut bukan berasal dari dana masyarakat seperti yang dituduhkan oleh orang-orang yang berlawanan dengan Bapak Pembangunan tersebut. Aku menanggapi dengan anggukan karena hanya ada pikiran positif yang melewati benakku.

“Suatu hari Astana Giri Bangun akan dipadati oleh peziarah. Akan banyak masyarakat yang berdoa kembali disini seperti sebelum era reformasi, walaupun entah kapan....” tuturku dalam hati dengan yakin. Beberapa bulan kemudian ibu-ku datang berziarah kesini, dan Astana Giri Bangun masih sunyi sepi.

 

Jakarta 9 tahun kemudian tertanggal 27 Januari. Pukul 13:35 aku menerima sms dari Yuli, ~ Breaking News : Inalillahi Wa Innalillahi Ra’jiun.Pak Harto telah Meninggal dunia jam 13.10 ~

Yuli, teman menonton konsert musik mengirimkan kabar tersebut. Aku membalasnya dengan 1 kata : ~ Serius???~

Kemudian handphone-ku yang lain berbunyi. Mbak Wien menegaskan berita tersebut. Langsung aku mengabari ibu dan menyalakan televisi. Begitu menyalakan televisi yang tersorot langsung salah satu teman papie yang beberapa  minggu lalu ibu berkumpul di rumahnya di Kebayoran.”Bu, itu Pak BBB dan Ibu DDD!”. Teman seperjuangan orang tua-ku itu masuk ke dalam mobil hitamnya dan tak berlama-lama di RSPP (Ternyata beliau langsung menuju Solo, karena saat pemakaman beliau terlihat hadir dan datang terlebih dahulu daripada jenazah)

Tapi tak lama aku melihat tv karena aku sudah ada janji dengan temanku untuk bertemu siang itu. Malamnya aku melanjutkan menyaksikan siaran televisi, siaran dan liputan mengenai wafatnya mantan Presiden Soeharto. Sebenarnya mau melayat, tapi daku pikir pasti banyak banget pelayat. Berdoa dari rumah aja deh...

Malam itu juga di televisi aku menyaksikan salah satu kerabatku yang juga tokoh kontroversi reformasi sudah berada di bandara Adi Soemarmo Solo pada pukul antara 20 -22. Kerabatku itu akan diwawancara oleh wartawan namun beliau hanya melambaikan tangan dan masuk ke mobil yang menjemputnya. Baru kemarin ibu mertua-nya menelpon ke rumahku. Tebak ndiri ya siapa beliau. Gara-gara kekerabatan dengan istri-nya maka aku pernah digosipkan juga kerabat first lady Indonesia asal Solo ini. Aku ngotot ke teman yang “bergosip” itu bahwa istri si tokoh yang juga kerabatku ini tidak dekat hubungan darahnya dengan Ibu Tien.

Penuturan dalam hati-ku 9 tahun lalu mewujud. 28 Jan. 08 di televisi aku menyaksikan detik-detik terakhir jasad ‘big man’ Indonesia itu masuk ke dalam tanah yang 9 tahun aku sentuh. Kembali seperti 10 tahun yang lalu, ribuan tokoh dalam dan luar negeri serta masyarakat berada di Astana Giri Bangun. Mereka berdoa, mengantar kepergian Sang Jenderal Besar.

 

SELAMAT JALAN, BAPAK PEMBANGUNAN
Semua orang mengerti bahwa beliau adalah tokoh besar Indonesia. Ketika beliau masih menjabat sebagai orang nomer satu ibu pertiwi aku pernah mengirimkan ucapan ulang tahun kepada beliau. Beliau berzodiak sama denganku, Gemini. Tanggal lahir kami berselisih 11 hari. Oleh karenanya aku “iseng” mengirimkan ucapan ulang tahun itu di hari ulang tahunku. Kartu balasan yang beliau kirim ke aku benar-benar membuatku tersenyum lebar. Senang rasanya mendapat ucapan terima kasih dari seorang presiden. Padahal aku hanya masyarakat yang belum beliau kenal dan masih sekolah. “Kenangan” lain dengan beliau adalah saat aku dan teman-teman sekolah bernyanyi dalam aubade di Senayan. Beliau menghadiri acara Hari Sumpah Pemuda.

Bertambah lagi foto orang yang sudah menghadap-NYA berada di rumahku. Di dalam lemari kaca rumahku masih tersimpan foto Bapak Soeharto dan Ibu Tien yang diantarkan oleh ajudannya ke rumah keluarga kami. Ketika itu kakakku yang masih kuliah mengirim surat kepada beliau, kemudian 2 petugas kepresidenan datang ke rumah kami, mengantar surat dari Presiden Soeharto dan foto beliau bersama istri. Kata kakakku Pak Harto menasehatinya agar kakakku rajin belajar dan menjadi anak yang berguna bagi bangsa. Sekarang kakakku itu menjadi jaksa di Kejaksaan Agung.

Selamat jalan, Bapak Pembangunan yang dengan senyum tulusnya mengisi hari kemerdekaan Indonesia, memperhatikan progress kaum petani, menjunjung tinggi budaya Jawa dan kerukunan beragama. Semoga jasa-jasamu diterima oleh Allah SWT sebagai amal baktimu kepada-NYA dan kesalahanmu menjadi hikmah serta mampu mengantarkan hidayah kepada masyarakat Indonesia lainnya sehingga Allah SWT mengampuni segala kesalahanmu itu. Aku sebagai masyarakat Indonesia hanya mampu memaafkan sebagai manusia kecil....

Keharuan itu menyergap ketika upacara militer berpadu upacara Jawa membaur dari Astana Giri Bangun. Semoga akan ada lagi tokoh yang dapat memadukan ketegasan militer dan kelembutan Jawa seperti beliau. Ya Allah...lindungi dan rahmatilah negeri kami ini.....

Foto : Dipinjam dari Joglosemar.com

 

Monday, December 24, 2007

Nostalgia Tanah Suci

Salah satu kegemaran saya selama ini adalah bepergian (melancong). Puluhan kota di dunia pernah saya kunjungi, namun belum lengkap rasanya jika saya belum berkunjung ke Tanah Suci, menjadi tamuNya. Karena itu, saya bertekad harus pergi menunaikan ibadah haji sebelum menikah. Kerinduan saya kepada Allah terasa begitu membuncah di dada.

            Tahun 1996, saat saya liburan kuliah du New Zealand, saya pulang ke Indonesua. Saya mengumpulkan tabungan, dan ternyata uang tersebut hanya cukup untuk biaya menunaikan ibadah umrah. Alhamdulillah. Saya langsung mencari biro perjalanan yang menyelenggarakan bimbingan umrah dan haji. Waktu itu saya berpikir, siapapun penyelenggaranya tidak masalah yang penting murah. Maklum, namanya juga mahasiswi segala rencana harus disesuaikan dengan isi kantong.

            Akhirnya saya mendapatkan biro perjalanan yang lebih murah dibanding dengan perusahaan sejenis lainnya. Saya juga ditawari umrah plus ziarah ke Masjidil Aqsa. Selisih harganya tidak terlalu, tetapi saya berpikir – pikir dan berhitung – hitung dulu. Alhamdulillah, ibu saya memberi “uang jajan” yang kemudian saya pergunakan untuk biaya tambahan perjalanan umrah plus.

            Rombongan kami berangkat menuju Saudi Arabia melalui Yordania. Pesawat kami mendarat dengan selamat di Queen Aulia Airport saat subuh. Lalu kami dibawa ke hotel untuk istirahat karena perjalanan ke Saudi Arabia baru akan dilanjutkan menjelang waktu Maghrib nanti. Tetapi waktu yang disediakan untuk istirahat itu, justru kami manfaatkan untuk mengikuti paket “Amman City Tour” dengan mengunjungi tempat – tempat bersejarah Islam di dalam dan di sekitar kota Amman, ibukota Jordania.

KISAH PARA PENGEMIS

            Di rombongan kami, saya merupakan jamaah termuda. Namun karena kondisi fisik saya tergolong sehat dan mampu berbahasa Inggris, maka saya dipercaya menjadi “sekretaris rombongan”. Hal itu tentu sangat saya syukuri. Adapun tugas saya antara lain membantu ibu – ibu mengisi formulir imigrasi dan memberi informasi bila ada tempat belanja yang murah. Padahal saya sendiri paling tidak betah berbelanja.

            Karena mensyukuri fisik yang masih kuat itu, maka selama di Mekah saya melaksanakan ibadah umrah setiap hari. Selama di tanah suci itu dsys punya pengalaman unik dan menarik. Di rombongan kami, ada seorang ibu yang entah kenapa selalu dikejar – kejar pengemis. Kemanapun ia pergi, pengemis – pengemis itu selalu berbondong-bondong mengejar dan menarik-narik baju ibu itu sampai ia berteriak-teriak histeris. Saya sendiri merasa heran, kenapa saya tidak pernah dimintai uang oleh pengemis-pengemis itu. Saya berpikir, apakah wajah saya terlihat pelit, atau karena karena mereka memang tahu saya tidak punya uang berlebihan. Mudah-mudahan karena hal yang baik itu, sehingga saya justru yang lebih dulu memanggil atau mencolek pengemis itu untuk membagi-bagikan uang receh.

            Ada hal lain yang bagi saya cukup berkesan. Keinginan saya untuk mencium Hajar Aswad begitu menggebu, sehingga saya sengaja memisahkan diri dari rombongan dan langsung menuju batu hitam di sudut Ka’bah itu. Alhamdulillah, dengan karunia dan kemudahan dari Allah SWT saya dapat mencium Hajar Aswad setiap selesai melaksanakan tawaf umrah. Sehingga dalam seminggu, saya dapat menciumnya 9 kali, sesuai dengan keinginan saya. Yang mengesankan sya, saat jamaah lain saling berdesakan ingin mencium Hajar Aswad, saya hanya memangdang mereka tanpa ikut menyikut-nyikut jama’ah lain.

            Saya memang berusaha menghindari kerumunan jamaah pria. Namun tiba-tiba asykar penjaga batu itu menahan orang – orang yang saling berebutm dan tanpa diduga ia memanggil saya dan mempersilakan saya mencium Hajar Aswad sepuas-puasnya. Mungkin ia kasihan melihat tubuh saya yang kecil, atau ada malaikat yang membisiki hatinya agar segera membantu saya. Allahua’lam bissawab, yang jelas dan pasti,saya sangat menikmati perjalanan umrah pertama ini. Sehingga yang ada dalam pikiran saya Cuma rasa syukur kepada-NYA. Banyak pengalaman yang saya peroleh di Tanah Suci. Misalnya, saya pernah diajak menikah oleh dua orang Arab dan saya juga dapat shalat di Raudhah beberapa kali. Di sana sana saya berdoa sebanyak mungkin. Salah satu doa saya adalah saya ingin kembali ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji di saat usia muda, sehat dan belum menikah.


DOA YANG TERKABUL

            Tiga tahun kemudian doa itu dikabulkan-Nya. Bagi saya, ini merupakan suatu keajaiban. Tahun 1999 ONH melambung tinggi, mencapai angka 20 jutaan. Rekor termahal dalam ONH. Biasanya ONH Plus berkisar antara 14 – 17 jutaan, tapi tahun itu ONH Biasa melampaui jumlah tersebut. Saya sempat berkata kepada rekan,”Hanya orang-orang mulia yang dapat menunaikan ibadah haji tahun ini. Selain biayanya yang tinggi,juga waktu wukufnya jatuh pada hari yang mulia, Jum’at, sehingga disebut haji akbar.”

            Batas pendaftaran haji tinggal 2 minggu lagi, tak ada bayangan tahun itu saya dapat menunaikan ibadah haji. Suatu malam sata bermimpi di datangi 3 orang pria bercahaya. Salah seorang diantaranya memberi saya cahaya dan sebuah kitab. Saya ingin menanyakan sesuatu, tapi salah sayu diantara mereka berkata,”Belum waktunya kamu bertanya banyak kepada kami.” Saat itu tanggal 21 Ramadhan 1419 H.

            Keesokan harinya saya merasa terpanggil untuk pergi ke Tanah Suci. Tetapi dua minggu sebelumnya, tabungan saya sudah gunakan untuk berlibur ke Singapura dan Australia. Sekitar pukul 1 malam, iseng-iseng saya menelpon sebuah biro perjalanan haji. Dan keajaiban itu terjadi! Saya dapat kesempatan untuk menunaikan ibadah haji, meski dengan “menggerus” tabungan. Saya mendaftar pada hari terakhir pendaftaran. Saya yakin Allah SWT akan mengganti uang tabungan itu dengan berlipat ganda.

            Keberangkatan yang terkesan mendadak saya hadapi dengan tenang dan pasrah, seperti layaknya bepergian ke negara-negara lain. Lagipula sebelumnya saya telah mengenakan jilbab,sehingga tak perlu lagi membeli busana muslimah. Pakaian ihram-pun saya pinjam milik kakaka yang satu tahun lalu menunaikan ibadah haji. Bahkan tikar yang akan saya pakai di Arafah nanti adalah tikar ayah ketika beliau menunaikan ibadah haji 14 tahun yang lalu. Dan saat ayah meninggal dunia, tikar itu pula yang dipakai sebagai alas jenazah saat dikafani.

            Dengan berbagai “keterbatasan” tersebut, hati saya merasa sangat tersentuh. Apalagi saat tidur di padang Arafah pada malam Jum’At, saya tidur beralaskan tikar tersebut dan saya bermimpi tidur di sebuah istana yang megah terbuat dari emas dan penuh dengan makanan – makanan yang lezat, dikelilingi pria-pria tampan. Mudah-mudahan mereka itu penjelmaan dari malaikat.

            Kalau soal makanan lezat memang selama menunaikan ibadah haji, setiap makanan yang saya makan selalu terasa lezat. Bahkan saya mendapatkan makanan yang berlimpah. Selama ini, saya paling tidak suka dengan daging kambing. Tapi saat kami diberi hidangan gulai kambing, saya dapat melahapnya dengan enak. Memang sebelumnya saya tidak tahu kalau uang dihidangkan itu adalah daging kambing. Selain berbagai macam makanan, kami juga disodori buah-buahan segar dan aneka juice dalam kaleng. Karena terlalu banyak, maka buah-buahan dan juice tersebut kami bagi-bagikan kepada para pengemis di Mina. Jumlahnya berkarung – karung.


BERTRILYUN SYUKUR

            Rasa syukur yang mendalam pada-NYA tidaklah terhitung, trilyunan atau tidak terhitung sama sekali karena begitu banyaknya kenikmatan dan kemudahan yang Dia berikan pada saya. Sedangkan kalau dapat disebut “cobaan”, saya hanya mengalaminya sekali saja yakni saat mendapat menstruasi yang melenceng dari tanggal biasanya. Mungkin itu dampak dari penggunaan obat penunda menstruasi yang saya minum.

            Alhamdulillah, semua itu dapat saya atasi, bahkan saya memperoleh hikmah yang cukup banyak. Diantaranya, saya dapat melaksanakan shalat Ar’bain di Masjid Nabawi, Madinah, tanpa hambatan. Sedangkan shalat di Raudhah, karena pada waktu umrah di tahun 1996 dulu saya sudah melakukannya berkali –kali, maka pada musim haji tahun 1999 itu saya memberi kesempatan pada jama’ah yang lain. Sehingga mereka juga dapat merasakan bagaimana nikmatnya shalat di “taman surga”. Bukankah memberi kesempatan pada orang lain untuk beribadah berarti kita juga termasuk sudah beramal?

            Dari trilyunan rasa syukur yang saya dapati, yang utama adalah karena Allah SWT telah memberi saya kesehatan yang optimal. Selama menunaikan ibadah haji, saya tidak pernah sakit. Bahkan salah seorang menjuluki saya “Onta Arab”. Karena, menurutnya, hanya Onta Arab saja yang tidak pernah mengalami gangguan kesehatan selama musim haji.

            Sebelum kembali ke Tanah Air, saya berdoa kepada Allah SWT ; Ya Allah, saya mohon dapat kembali ke Tanah Suci huna menunaikan ibadah haji bersama ayah dari anak – anak saya kelak. Pada prinsipnya ibadag haji hanya wajib dilakukan seumur hidup, maka jika kita mendapat kelebihan rezeki, alangkah baiknya jika kita membiayai orang lain yang berniat menunaikan ibadah haji, namun ekonominya tidak mampu.

            Terlepas dari hal itu, saya sendiri berniat kembali ke tanah suci bersama suami guna menunaikan ibadah haji jika kelak telah menikah (Catatan 2007 : Alhamdulillah sudah tercapai bersama “calon suami” ketika itu, tapi gak usah daku ceritakan lebih lanjut ya! Sekarang sih daku lagi menanti calon suami disunatin...hahaha, kalau dia nggak jadi disunat berarti gak jadi suami deh...hihihii...) .Sedangkan untuk ibadah umrah Insya Allah akan saya laksanakan kembali jika timbul kerinduan saya pada Tanah Suci dan Allah memberi rezeki yang berlimpah kepada saya. Amin.

Dimuat di Majalah Amanah No.25 April 2002