Monday, January 7, 2008

"On The Way Travel" ;-D

Breakfast di Malabar Resto yang terletak di Lt.4 Hotel Horison Semarang. Menunya kaya variasi, karena memang ini keunggulan Horison Semarang dibandingkan Horison di beberapa kota Indonesia. Nasi liwet, Dim Sum, Ayam Panggang, Bubur Ayam, Spaghetty, Sandwich, Sapi Lada Hitam, Ikan Tenggiri Asam Manis....aaaah pokoknya banyak banget deh! Selain prasmanan juga digubug-gubugin seperti kalau datang kondangan gituh deh. Selama daku makan dari hotel ke hotel sepertinya breakfast kali ini termasuk variasi menu-nya oke. Setelah breakfast langsung kita kabur ke kamar 713. Pagi itu Mas Tunggal dan Mbak Rita mau ke Mlati Hardjo dulu untuk ketemu Mas Edy. Ely ikutan pulang. Daku en Sekar nonton Amazing Race Asia di AXN ajah sambil nunggu waktu check out.

Jam ½ 2 kami check out. SMS ke Bang Ronald dulu : “Aku udh check out dan mau keluar dr Smrg.Mlm ini mungkin aku nginep di Cirebon,jd no.esia ini gak tpakai lg ya.Kabaqr2i aku soal Mb Henny ya klau ktemu.Trimaksh.” (Repotnya Pakai esia Mode : ON). Praktis selama di Semarang hanya Bang Ron ngehubungi CDMA-ku.

OLEH – OLEH KHAS SEMARANG

Kami ke Jalan Pemuda, seberang Sri Ratu untuk membeli Lumpia “Mbak Lien”. Harga lumpia-nya @ Rp 7,000 ,- boleh pilih yang basah atau goreng. Rasa rebung-nya bikin daku jadi sering kangen dengan lumpia Semarang. Dari Jln Pemuda kami meluncur ke salah satu jalan (waduh lupa nama jalannya!) untuk membeli Ayam Tulang Lunak yang juga khas Semarang. Tak lupa kami ke Jln Pandanaran yang banyak menjual oleh-oleh khas Semarang. Pedagang kaki lima sampai toko – toko menjual lumpia, wingko babat, Bandeng duri lunak dan aneka makanan lainnya. Lumpia di Jln Pandanaran banyak juga yang harganya lebih murah.
“Urusan” di Semarang beres, kami meninggalkan kota Semarang. Rencananya sih February daku balik ke kota ATLAS ini lagi.

SHOPPING DARI BATIK SAMPAI “EMBER”

Mas Tunggal menyetir mobil dengan santai. Emang sengaja jalan santai. Melihat deretan kios duren di Kabupaten Batang membuat mobil berhenti sejenak. Mau makan duren dulu. Tetapi sayangnya duren yang kami makan tidak semanis duren yang kita lahap di Jepara. Oh iya, waktu di Jepara kami makan duren di Jln Jend.Hoegeng Imam Santoso (Daku baru menemukan nama beliau dijadikan nama jalan. Saat beliau meninggal dunia 3 tahun yang lalu aku sempat melayat di rumah keluarganya di Pesona Khayangan Depok. Kebetulan anak bungsu dan cucu-nya satu sekolah denganku. Saat ayah-ku meninggal dunia beliau juga melayat ke rumahku, dan kami memiliki satu lukisan hadiah dari beliau.). Di Jln Jend.Hoegeng Imam Santoso ini pula terdapat monumen berbentuk duren. Memang Jepara juga kota penghasil duren.

Di Pekalongan kami “tergoda” mampir ke salah satu toko batik yang besar. Daku sempat naksir batik seharga Rp 22.500 ,-. Murah meriah, warnanya juga funky dan yang pasti gak bakal ada saingannya kalau kita jalan2 ke Paris – Milan or New York! Eh tetapi justru Sekar yang beli rok batik berwarna hitam. Sampai di Pasar Batik Setono – Pekalongan daku justru “meringis2” karena batik yang aku taksir di toko tadi tidak ada di pasar ini. Selama perjalanan hape memang aku silent total, tp kali ini aku berhasil menjawab panggilan telepon dari Mbak Hen yang juga lagi plesiran di Blitar. Mbak Hen baru besok ke Surabaya dan janji mau bertemu dengan Mas Al dan Bang Ron sebelum Mbak Hen balik ke Singapore.

Alhamdulillah akhirnya daku bisa membeli baju “you can see”. Kalau dilihat sekilas motifnya tidak kelihatan seperti batik, tapi itu batik kok.

Perjalanan dilanjutkan setelah kami shopping batik Pekalongan. Dinner kali ini kami memilih satu resto bernama : D’Pawon Seafood & Fastfood di Jln Kolonel Sugiyono – Tegal.Tempatnya asyik, resto tapi terbuka gitu deh, pengunjungnya juga kebanyakan bermobil pribadi dan family...namun pelayanannya luuuaaaammmaaaa. Kami hampir mati lemas kelaparan euy! Kasihan juga sih sama mbak yang ngelayanin karena menurutnya teman2nya lagi pada pulang kampung dan saat itu pengunjung sedang banyak. Orang Tegal pulang kampungnya kemana yak?! Rasa makanan sebenarnya lumayan enak, apalagi nasi bakar yang daku pesan. Gurih dan wangi. Nasi bakar tersebut digulung di dalam daun pisang, sebelumnya dikasih bumbu dan kemudian dibakar.

Awalnya Mas Tunggal mau laju dan istirahat di Cirebon, tetapi Sekar, Mbak Rita dan daku lebih memilih kami istirahat di Tegal. Jadilah kami malam itu check in di Hotel Pasific (*3). Walau hanya berlantai 3 hotel ini memiliki lift yang tembus pandang, baik pintunya maupun “dinding” disekitarnya sehingga kalau kita berada di lift kita dapat melihat jalanan, dan orang di jalan juga bisa melihat kita. Hotel berbintang 3 ini baru ada 3 tahun yang lalu. Pelayanannya top banget deh, bahkan petugas-nya cepat tanggap, khususnya petugas saat kami breakfast. Seno saja komentar,”Harga minimum pelayan maksimum!”. Rate menginap disini nggak sampai Rp 300.000 ,-/malam. 200ribu aja sih lebih! Kamar AC, TV Cable...nggak kalah deh dengan hotel bintang 3 di kota besar. Bahkan ada Karaoke dan Mini Theater-nya pula. Room service-nya muraaaahhhhh, masih banyak yang dibawah Rp 30.000 per-porsi makanannya. Usai breakfast dengan kepuasan tersendiri kami check out.

Mampir Brebes untuk beli telor asin khas Brebes. Telor asin zaman sekarang variant-nya juga macem-macem. Bayangin dah...ada Telor Asin Rasa Udang! Konon itu telor dari bebek yang makanannya udang. Wuuuiiiihh...kalau tuh bebek makanannya gado-gado mungkin rasa telor asinnya juga rasa gado-gado dong? Kata Mbak Rita di televisi pernah ada info tentang telor asin rasa jeruk atau strawberry loh. Lucu juga ya, kalau mau telor asin rasa jeruk or strawberry bukannya lebih enak makan buah jeruk or strawberry-nya sekalian???

Mbak Rita beli Telor Asin Rasa Udang dan daku beli Telor Asin Bakar. Perjalanan berlanjut ke arah Kuningan. Kami tidak melewati jalur Utara karena mau nengok lokasi wisata pemandian air panas dan spa di Kuningan.

KUNINGAN – SUMEDANG

Siang hari kami tiba di Kuningan. Mbak Rita ingin melihat Grage Hotel Spa yang seringkali diliput oleh media. Namun belum sampai lokasi kami tertarik dengan satu area, yakni Resort Prima Sangkanhurip.Di resort ini terdapat Perkampungan Wisata Cilimus 1928 yang merupakan replika perkampungan Kuningan di tahun 1928. Yang sejarah Indonesia-nya jago pasti ngerti deh “apa dan bagaimana” Kuningan di tahun 1928. Perjanjian Linggar Jati masih ingat dooonnnggg...Pelajaran SD gitu looohh....

Kami menanyakan roomrate menginap di resort tersebut, dengan tekad liburan mendatang kami menginap di sini. Suasana khas Indonesia-nya asyik banget!

Barulah kami menyusuri jalan Sangkanhurip, yang diujungnya terdapat obyek wisata Sangkanhurip Alami. Pemandian air panas dengan harga terjangkau. Kami hanya melewati obyek wisata tersebut, berbelok ke kanan...dan barulah mampir ke Grage Sangkan Hotel Spa yang memproklamirkan diri sebagai ‘The Best Aquamedic Spa in Java’. Daku dan Mbak Rita sempat masuk ke area spa yang air-nya kehijauan dan hangat. Dia atas kolam renang biasa (Teratai Pool Side) telah berdiri panggung dan disekitar kolam renang juga sudah tersusun meja dan kursi untuk acara tahun baru nanti malam. Hotel tersebut mengadakan : ‘New Year 2008 Hawaiian Nite’ – dinner – live band – dance – hawaiian dance. Kenapa nggak menampilkan perayaan khas Indonesia aja siiiiiihhh??????

Perjalanan berlanjut. Di sepanjang jalan kami melihat penjual ember. Toko makanan menjual ember??? Untungnya Mbak Rita “cepat tanggap, ingat bahwa itu adalah salah satu oleh-oleh khas Kuningan yang pernah diceritakan temannya. Tape ketan dibungkus daun jambu yang kemudian dimasukkan kedalam ember! Karena Mas Tunggal juga senang dengan tape, kami-pun berhenti dan membeli ember, eh makanan khas tersebut. Aku bilangnya,”Beli tape gratis ember!” hahaha...

Mobil melaju ke Sumedang. Kotanya penyanyi Rossa, yang kebetulan saat kami sampai di Sumedang tape di mobil lagunya “Atas Nama Cinta”. Kami lunch di ‘Rumah Makan Joglo Sumedang’ yang baru dibuka 3 hari dan bangunannya keren banget, rumah Joglo ala Kraton. Kami makan di gazebo yang berada di pekarangan bangunan. Kami pesan makanan khas-nya Ayam Goreng Spesial Bumbu Kraton.Ckckck...koleksi mobil antik owner-nya okeh banget looowwhh ;-)

Suasana akan tahun baru mulai daku rasakan lagi ketika sudah banyak sms masuk ke hape-ku mengucapkan selamat tahun baru. Pak Aswin,  direktur Finance di salah satu BUMN juga sudah mengirimkan sms ke aku. Duh, Pak...maafkan “anakmu” yang kurang ajar ini. Selalu kedahuluan jika ingin mengucapkan selamat ke bapak. Salut daku sama beliau, direktur BUMN ,kerjanya keliling dunia bahkan sampai naik Concorde saja pernah tapi low profile-nya ampun-ampunan.

Jam 7-an malam Mas Alief, leader-ku di Surabaya mengirim sms agar aku membuat keyakinan pada tengah malam nanti mengenai peringkat-ku di Konvensi Nasional tanggal 23 Agustus 2008 di Hailai Restaurant. Yup lebih dari 20 tahun aku melewati tengah malam dengan hingar bingar kemewahan tahun baru, merayakan di hotel mewah, pesta bahkan di Bali seringkali aku lakukan. Oleh karena itu malam ini aku mau mengadakan resolusi 2008 dalam kelelapan malam. Walaupun disekitar rumah Sekar udah jedar jedor kembang api! Bentaaar-lah lihat kembang api.

Thursday, January 3, 2008

Travel Akhir Tahun 2007

Jangan tanyakan kemana daku melewatkan malam tahun baru, karena justru akhir tahun daku melewatkannya kemana-mana. Lewat Cirebon, lewat Brebes, lewat Pekalongan...dan malam tahun baru daku melewatkannya di dalam perjalanan tol Bandung – Cimanggis sambil menikmati Ice Coffee gratisan dari Excelso Rest Area Km.62. Ssssrrrrruuuupppp......dan kopi itu melewati tenggorokanku!

SEMARANG, Si Pesona Asia
Dua hari pasca Christmas Mas Tunggal mendadak mengajak ke Semarang. Dua jam sebelum keberangkatan, jadinya hari itu aku cancel rencana hari itu ke Synergy bareng Dian untuk menemui Pak Ali dan Dr.Roy. Ke Semarang juga mau nganterin
brosur Synergy ke Ely and kalau memungkinkan bikin home meeting di hotel sekalian. Jadilah siang itu daku bersama Mas Tunggal keluarga dan sopirnya (yang Art Director film Ca Bau Kan – real!) berangkat ke Semarang. Terlebih dahulu makan sore di Rest Area Km 57, RM Padang Sederhana. Di sana aku sms Ely supaya mempersiapkan materi untuk pembahasan Synergy nanti malam.

Shalat Maghrib di rest area toll Kanci Cirebon dan makan malam di KFC Pasifik Mall Tegal – Jawa Tengah, sekalian daku beli pulsa GSM dan Mas Tunggal beli 3 kaset. Wuuiih udah ada KFC, Es Teller 77, Pizza Hut, Dunkin, M Studio, Naughty and Guardian. Tegal sudah bertabur franchise business rupanya ;- Kenapa nggak ada  kedai teh poci  khas Tegal seh???!!!!
Barulah jam 11 lewat kami sampai di rumah Semarang.

Paginya Ely baru nongol di depan hidungku . Kami sudah siap – siap berangkat ke Jepara, kota Kelahiran RA Kartini si Pahlawan Emansipasi Wanita. Aku langsung menyodorkan chlorophyll ke Ely. Kebetulan Mbak Rita ngajakin Ely juga, jadi Ely bisa sekalian ikut. Daku gak enak ati kalau yang ngajak daku karena kakinya Mbak Rita khan dalam masa recovery jadi tempat duduk di mobil harus leluasa. Jam 8-an Tavera melaju menyusuri “Little Netherland” yang jadi salah satu obyek wisata unggulan Semarang, start dari yang paling ujung Hotel Raden Patah (Budgeting Hotel – Backpacker Clas yang dulu pernah masuk list Lonely Planet), Kantor Polisi, Gereja Blenduk, dan berderet bangunan peninggalan Belanda yang seringkali dijadikan shooting film.
Terlebih dahulu kami check in di Hotel Horison (*4) kawasan Simpang Lima Semarang.

JEPARA, Kotanya Ibu Kita Kartini (Jum’at, 28 December 2007)
Hanya meletakkan travel bags kemudian lanjut ke Jepara, melewati Demak tetapi nggak lewat Kudus. Makan siang di RM.Ismun Jln Margoyoso yang kecapnya khas. “Bentuk” kecapnya seperti madu dan rasanya manis banget. Setelah lunch kami hunting furniture ukiran Jepara yang showroom-nya berderet di sekitar Jepara. Masih banyak yang tutup. Mbak Rita dan Mas Tunggal yang sedang merenovasi rumah  berencana membeli jendela yang berukir khas Jepara. Salah satu showroom mengaku kalau dia-lah yang mendesain ukiran interior rumah Probosutedjo, artis Roy Marten dan beberapa seleb lainnya, bahkan juga mendesain rumah Joglo Jawa Tengah lengkap dengan ukiran-nya untuk dikirim ke Pulau Karibia. (Awas loh kalau Malaysia sampai ngaku’in ukiran Jepara di resort mewah Karibia asalnya dari Malaysia!!!!).

Kami sempat mampir ke dermaga Pantai Kartini. Dari pelabuhan ini-lah kapal Karimun membawa penumpang ke Pulau Karimun Jawa. Ombak terlihat begitu liar, angin juga bergemuruh. Hal itulah yang membuat kapal Karimun sudah dua hari tidak beroperasi. Daku sih sempet berfoto ria di depan kapal tersebut. Ini salah satu impian daku dan Tary, visit to Karimun Jawa sambil mencari inspirasi novel. Bahkan Ratih Kumala, si penulis novel Tabula Rasa yang bukunya masuk dalam list “The books must read before die” ngerengek minta ikutan kami berdua. Hahaha...

Di Jepara sempat diminta Ronald untuk menelponnya karena ada hal penting yang harus dibicarakan. Duuuh, Bang, daku lagi di pinggir sawah nih....pulsa gak cukup untuk nelp ke Surabaya. Lah, hape aja daku silent total.Untungnya sih Ronald nelpon duluan. Emang deh, bisnis itu harus dilakukan dimana saja dan kapan saja dan oleh siapa saja. (Chlorophyll is better than Coke...hahahaha)
Sore kembali ke Semarang, ke Hotel Horison. Malamnya kami makan di salah satu rumah makan yang bikin Sekar nggak napsu makan dan akhirnya malamnya harus beli makanan lagi di Pizza Hut yang masih satu area dengan hotel. Hotel Horison Semarang “layout lokasi”-nya mirip dengan hotel – hotel yang ada di Sing
apore.      Aku en Sekar sempat foto di depan Santa Claus yang terbuat dari permen, dan itu merupakan Santa Claus dari permen terbesar di Indonesia. Pakai masuk MURI segala. Setelah itu permennya nggak boleh dimakan. Duuuhhh...mendingan Santa Claus-nya membagikan permen-permen itu ke anak fakir miskin aja kali yaaa....Jadi masuk MURI-nya : Santa Claus Membagikan Permen Terbanyak ke Fakir Miskin & Korban Banjir Jawa Tengah. Sepertinya itu lebih berguna dan secara Corporate Sok-sial Responsibility juga okeh!


MRAPEN – WATU GONG (Sabtu, 29 December 2007)
Setelah meninjau beberapa rooms yang rencananya mau aku bikin jadi meeting room or ruang aktifitasku untuk meluaskan network dan pasar di Semarang, aku en Ely menuju ke Dorang, warteg bersih yang ada menu andalanku, yakni telor ikan yang gede. Menu warteg ini  relatif lengkap dan lezat loh. Tempatnya juga bersih. Yang makan disini banyak yang bermobil pribadi. Mungkin seperti Warmo Tebet, tapi soal kebersihan dan kenyamanan tempat, daku lebih mantap di Dorang. Ini aja daku “bela-belain” nggak breakfast di Hotel Horison lantaran aku ingin menikmati menu  Warteg Dorang . Semula ingin dijemput pakai Tavera tetapi karena Seno main PS di hotel (playground Hotel Horison ada PS-nya) dan Mbak Rita creambath di salon mall hotel, jadinya selesai makan daku en Ely berbecak ria ke Hotel Horison. Satu moment bahagiaku adalah naik becak! Hal langka yang bisa terjadi di Jakarta.

Dari Hotel Horison kami menuju arah Grobogan. Eh udah naik mobil yg dikemudikan Mas Tunggal, bukan naik becak. Kasihan banget tukang becaknya kalau daku minta anter ke Grobogan. Niat awal ke “miniaturnya Sidoarjo”, tetapi karena hujan lumayan deras, akhirnya kami berbelok ke Mrapen yang terletak di pinggir jalan Raya Semarang – Purwodadi Km.36. Melongok peninggalan Sunan Kalijaga, yakni : Api Abadi, Sendang Dudo yang airnya mendidih namun tidak panas dan batu bobot yang sebenarnya merupakan landasan salah satu tiang kerajaan Majapahit yang ingin dibawa ke Demak namun karena berat jadinya ditinggal oleh Sunan Kalijaga, daripada menghambat perjalanan gitu loh!

Api Mrapen ini yang api-nya diambil untuk obor pesta olahraga, dari Ganefo tahun 19963 hingga PON IV 1996. Sayang banget deh area Mrapen ini kurang terawat. Bahkan pengunjung  hanya kita. Ada sih cowok – cewek pendatang. Mereka berdua masuk dalam bilik Batu Bobot, kata penjaga warung tempat aku beli teh botol di dekat situ katanya kedua orang tersebut berdoa, dan banyak yang “ngalap berkah” di Batu Bobot. Daku sempat diledekin Mas Tunggal,”An, nggak usah malu-malu tuh....katanya mau minta supaya dagangan-nya laku keras!”

Hahaha...supaya dagangan laku keras mah gelar aja dagangan di alun-alun taon baru’an nanti, bukan berdoa di depan/dekat batu gituh. Lah Sunan Kalijaga ajah sampai ninggalin tuh batu, trus kenapa kite justru “nyembah-nyembah” tuh batu. Nyembah Hajar Aswad yang udah jelas di Rumah Allah aja udah masuk kategori musyrik, apalagi batu lain. Wait...wait...soal ini mah daku pendapat pribadi aja yak, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap toleransi kepercayaan sesama mahkluk ciptaan-NYA.

Dalam perjalanan kami sempat lihat warung dengan spanduk yang menyeramkan loh. Spanduk bertuliskan dan bergambar : ular, biawak dan kodok, tulisannya : Extrem Kuliner. Hiiii...lihat spanduk dan warungnya aja serem gituh. Kalau kita masuk ke warung itu mungkin kita akan lihat ular lagi ngejar-ngejar kodok??! Trus biawaknya tepuk2 tangan ngasih suporter.Nggak sampai 5 km dari warung itu aku melongo lagi membaca spanduk di warung berikutnya, salah satu menunya : Rica Rica Kuda! Waaaw, ternyata Grobogan banyak menawarkan aneka kuliner “ajaib”, dan yang menawarkan adalah warung sekelas kaki lima – bukan restaurant atau rumah makan permanent.

Dari Mrapen kami sempat mampir ke salah satu perumahan baru di Semarang. Ada sih niat punya rumah pribadi di Semarang, yang lokasinya keren dan nyaman. Setelah itu kami meluncur ke Semarang atas, tepatnya ke Watu Gong. Artikel dan foto lengkap mengenai Watu Gong akan aku upload di MP kalau sudah dimuat di media cetak dulu yaaaa......

Dinner hari ini di Kampung Laut Suki, restaurant unik pinggir laut sekaligus tempat rekreasi di Utara Semarang. Soal tempat ini lebih lanjut...nanti daku review. Hehehe...pokoke menu dan tempatnya mantap!

*Dan keesokan hari-nya kami bertolak dari Semarang. Melakukan “On The Way Travelling” (halah..istilah apa’an pulak!?) Kalau dibikin artikel lagi bakal panjang, so nanti aku tulis lagi ah. Foto sebagian juga akan Anna upload, sebagian sih tunggu setelah dimuat di media cetak ajah. Banner diatas adalah banner website-nya pemerintah Semarang.

2008 daku bakalan banyak mobile nih, menyusuri setiap sudut negeri tercinta. Menjadi saksi bahwa Indonesia-ku kaya akan seni dan budaya agar tidak diakui oleh bangsa lain. Indonesia, merupakan salah satu wujud cinta Allah kepadaku. Karena mobile itu nomer CDMA-ku akan beralih menjadi nomer yang banyak angka 8-nya. Jadi gak perlu ganti2 nomer ke tiap kota walau pakai CDMA.Kemaren sempet bete sama operator CDMA yang sudah 2 tahun ini aku pakai. Kalau untuk di Jakarta aja sih lumayan irit deh nelp pakai ini, tp kalau sering keluar Jakarta....nggak deh! Biarpun tuh operator ngejanji'in bakal ngasih duit kalau kita jadi "aktifis" user operator itu. Ngapa'in juga ngarepin duit 50 perak doang kalau gara2 teknis bisnis 50 milyar  melayang lantaran susah dihubungin?? Lagian ngapa'in juga bikin kaya raya orang yang udah paling kaya raya di Indonesia?

Wednesday, December 26, 2007

Famous




Sebagian ceritanya udah pernah Anna tulis di blog deh. Antara lain :

http://kansas57.multiply.com/journal/item/21/Battle_Show_Indonesian_Idol_Rangkaian_Story_of_Dreams
http://kansas57.multiply.com/journal/item/12/Oh_Ramon..Oh_Surya..Oh_Roy_Suryo...Oh_Rian..Oh_Nooooo
http://kansas57.multiply.com/journal/item/7/Meet_Greet_Prof.Bungaran_Saragih_di_Botani_Square
http://kansas57.multiply.com/journal/item/2/Semalam_Bersama_ADA_Band_CHRISTIAN_BAUTISTA_December_2006

ADA Band @ 9 Clouds Jakarta




Tanggal 7 September 2007 ADA Band tampil di 2 tempat, di Mezza 9 PIM 2 dan 9Clouds Menara Jamsostek. Anna pernah lihat iklan 9Clouds di salah satu majalah lifestyle, so jadi kepengen dateng deh. Tapi HTM-nya Rp 80.000 ,- plus first drink yang pastinya sekelas Tequilla gitu deeeehhh...! Gak sehat bangeeeettt ;-p , apalagi harus bayar. Ogaaaahhhh....
Eh emang dasar rezeki, siangnya dapat telepon dari seseorang yang bilang kalau datang ke 9Clouds Anna gak usah bayar karena ada freelist .
Sesampainya di Menara Jamsostek jam 11-an. Sudah ramai tuh tempat dugem, tapi daku khan nggak bawa tiket masuk. Kita bertiga nunggu seperti anak hilang yang penculik-pun tak sudi untuk menculik. Tiba - tiba dari pintu rahasia muncul para personel ADA Band dan crew. Gubraaak deh lihat Donnie yang seperti orang kecemplung pewarna rambut! Memang sih daku udah ngerti kalau rambut dia diwarna'in coklat, sampai nggak berani ngebayangin. So begitu lihat dia dengan warna baru rambutnya....hiiii...nggak ada macho2nya, mirip...iiiih mau ngomong aja nggak tega! Tak lama handphone-ku berbunyi dan aku disuruh langsung ke meja yang sudah direservasi. Langsung saja aku menuju penerima tamu dan mengatakan apa yang penelpon katakan. Ih tauk gak sih???? Kita diperlakukan sebagai layaknya tamu istimewa loh, diantar ke meja dengan sopan (emang yg lainnya ditendang? ;-p), saat menuju meja orang orang menyingkir memberi jalan. Setelah diam sejenak, kami menemukan meja kami yang bertuliskan nama armADA. Huihihihi...sampai orang yang ada di 9Clouds terpesona melihat kami yang 2 diantaranya berjilbab, dan jam 12 malam masih di tempat ajep-ajep.
Namun ada kejadian malam itu yang bikin daku seperti layaknya manusia bodoh. Yup, waktu Donnie menyanyikan lagu Manusia Bodoh daku mengambil gambarnya, pakai video handphone. Kebetulan dia lagi menghadap ke para armADA dan nggak ngelihat ke Anna, so Anna nge-shoot punggungnya, trus Anna jalanin camera ke Marshal, trus ke Papa Rere...truuuuuusss tiba - tiba Donnie ngomong,"Sebelah sini yaaa...". Anna masih nge-shoot, kali ini sekalian lihat Donnie mau kemana. Dan Donnie berjalan dan jalan terus....sambil nge-shoot Anna melongo dongok sambil berkata dalam hati,"Mau kemana nih orang?!". Tiba - tiba....hap!!! Donnie berdiri dihadapan Anna, tanpa jarak! (Eh ada deng, sekitar selangkah). Secara daku nggak bisa nge-shoot apa-apa selain dada-nya yang udah di depanku. Asli daku nggak bisa gerak! Kalau daku memajukan kepala 25 senti aja, pasti kepala daku udah mendarat di dada-nya. Kalau daku ngedongak, duh dia lagi agak nunduk jadi bakalan berpandangan deh kami berdua dengan jarak hanya sejengkal tangan (real!). Donnie mengarahkan microphone ke arah kami (kami siapa??? Hanya Anna yang ada disitu. Syukurlah dibelakang daku ada 2 cewek, mungkin sudah berusia 40 tahunan yang akhirnya salah satunya ikut nyanyi dengan suara keras. Jadi daku agak terselamatkan walaupun Donnie sempat menyodorkan microphone ke muka daku. Setelah itu Donnie "mengatur jarak" dan layaknya pangeran ia membungkukkan badan , memejamkan mata sambil berkata,"Terima Kasih". (Ammmpppuuuun, Doooonnnn....untung kamu halangin aku, jadi aku gak sempet lihat ekspresi armADA didepan sana yang sepertinya murka melihat kamu nyamperin ke arah "minoritas"! Itu aja Yanti terang-terangan bilang kalau dia cemburu ke aku gara-gara kelakuan kamu ini!)

FIRE Walk One Solution Synergy

Start:     Feb 23, '08 06:00a
End:     Feb 24, '08
Location:     Tretes - Jawa Timur
Sejenis leadership dan pengembangan diri training. Fire Walk ini materi dari Anthony Robbins, dan Mr William (Upline Indonesia) dari Singapore juga akan menjadi trainer serta Dr Hardjanto sama Dr Haris juga akan menjadi trainer.
Acara tersebut , dan terbatas 150 Tiket saja seluruh Indonesia, itu salah satu program dari One Solution.
Early @ Rp 350.000 ,- February : @ Rp 470.000 ,-
RSVP : 0818477757

Monday, December 24, 2007

Nostalgia Tanah Suci

Salah satu kegemaran saya selama ini adalah bepergian (melancong). Puluhan kota di dunia pernah saya kunjungi, namun belum lengkap rasanya jika saya belum berkunjung ke Tanah Suci, menjadi tamuNya. Karena itu, saya bertekad harus pergi menunaikan ibadah haji sebelum menikah. Kerinduan saya kepada Allah terasa begitu membuncah di dada.

            Tahun 1996, saat saya liburan kuliah du New Zealand, saya pulang ke Indonesua. Saya mengumpulkan tabungan, dan ternyata uang tersebut hanya cukup untuk biaya menunaikan ibadah umrah. Alhamdulillah. Saya langsung mencari biro perjalanan yang menyelenggarakan bimbingan umrah dan haji. Waktu itu saya berpikir, siapapun penyelenggaranya tidak masalah yang penting murah. Maklum, namanya juga mahasiswi segala rencana harus disesuaikan dengan isi kantong.

            Akhirnya saya mendapatkan biro perjalanan yang lebih murah dibanding dengan perusahaan sejenis lainnya. Saya juga ditawari umrah plus ziarah ke Masjidil Aqsa. Selisih harganya tidak terlalu, tetapi saya berpikir – pikir dan berhitung – hitung dulu. Alhamdulillah, ibu saya memberi “uang jajan” yang kemudian saya pergunakan untuk biaya tambahan perjalanan umrah plus.

            Rombongan kami berangkat menuju Saudi Arabia melalui Yordania. Pesawat kami mendarat dengan selamat di Queen Aulia Airport saat subuh. Lalu kami dibawa ke hotel untuk istirahat karena perjalanan ke Saudi Arabia baru akan dilanjutkan menjelang waktu Maghrib nanti. Tetapi waktu yang disediakan untuk istirahat itu, justru kami manfaatkan untuk mengikuti paket “Amman City Tour” dengan mengunjungi tempat – tempat bersejarah Islam di dalam dan di sekitar kota Amman, ibukota Jordania.

KISAH PARA PENGEMIS

            Di rombongan kami, saya merupakan jamaah termuda. Namun karena kondisi fisik saya tergolong sehat dan mampu berbahasa Inggris, maka saya dipercaya menjadi “sekretaris rombongan”. Hal itu tentu sangat saya syukuri. Adapun tugas saya antara lain membantu ibu – ibu mengisi formulir imigrasi dan memberi informasi bila ada tempat belanja yang murah. Padahal saya sendiri paling tidak betah berbelanja.

            Karena mensyukuri fisik yang masih kuat itu, maka selama di Mekah saya melaksanakan ibadah umrah setiap hari. Selama di tanah suci itu dsys punya pengalaman unik dan menarik. Di rombongan kami, ada seorang ibu yang entah kenapa selalu dikejar – kejar pengemis. Kemanapun ia pergi, pengemis – pengemis itu selalu berbondong-bondong mengejar dan menarik-narik baju ibu itu sampai ia berteriak-teriak histeris. Saya sendiri merasa heran, kenapa saya tidak pernah dimintai uang oleh pengemis-pengemis itu. Saya berpikir, apakah wajah saya terlihat pelit, atau karena karena mereka memang tahu saya tidak punya uang berlebihan. Mudah-mudahan karena hal yang baik itu, sehingga saya justru yang lebih dulu memanggil atau mencolek pengemis itu untuk membagi-bagikan uang receh.

            Ada hal lain yang bagi saya cukup berkesan. Keinginan saya untuk mencium Hajar Aswad begitu menggebu, sehingga saya sengaja memisahkan diri dari rombongan dan langsung menuju batu hitam di sudut Ka’bah itu. Alhamdulillah, dengan karunia dan kemudahan dari Allah SWT saya dapat mencium Hajar Aswad setiap selesai melaksanakan tawaf umrah. Sehingga dalam seminggu, saya dapat menciumnya 9 kali, sesuai dengan keinginan saya. Yang mengesankan sya, saat jamaah lain saling berdesakan ingin mencium Hajar Aswad, saya hanya memangdang mereka tanpa ikut menyikut-nyikut jama’ah lain.

            Saya memang berusaha menghindari kerumunan jamaah pria. Namun tiba-tiba asykar penjaga batu itu menahan orang – orang yang saling berebutm dan tanpa diduga ia memanggil saya dan mempersilakan saya mencium Hajar Aswad sepuas-puasnya. Mungkin ia kasihan melihat tubuh saya yang kecil, atau ada malaikat yang membisiki hatinya agar segera membantu saya. Allahua’lam bissawab, yang jelas dan pasti,saya sangat menikmati perjalanan umrah pertama ini. Sehingga yang ada dalam pikiran saya Cuma rasa syukur kepada-NYA. Banyak pengalaman yang saya peroleh di Tanah Suci. Misalnya, saya pernah diajak menikah oleh dua orang Arab dan saya juga dapat shalat di Raudhah beberapa kali. Di sana sana saya berdoa sebanyak mungkin. Salah satu doa saya adalah saya ingin kembali ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji di saat usia muda, sehat dan belum menikah.


DOA YANG TERKABUL

            Tiga tahun kemudian doa itu dikabulkan-Nya. Bagi saya, ini merupakan suatu keajaiban. Tahun 1999 ONH melambung tinggi, mencapai angka 20 jutaan. Rekor termahal dalam ONH. Biasanya ONH Plus berkisar antara 14 – 17 jutaan, tapi tahun itu ONH Biasa melampaui jumlah tersebut. Saya sempat berkata kepada rekan,”Hanya orang-orang mulia yang dapat menunaikan ibadah haji tahun ini. Selain biayanya yang tinggi,juga waktu wukufnya jatuh pada hari yang mulia, Jum’at, sehingga disebut haji akbar.”

            Batas pendaftaran haji tinggal 2 minggu lagi, tak ada bayangan tahun itu saya dapat menunaikan ibadah haji. Suatu malam sata bermimpi di datangi 3 orang pria bercahaya. Salah seorang diantaranya memberi saya cahaya dan sebuah kitab. Saya ingin menanyakan sesuatu, tapi salah sayu diantara mereka berkata,”Belum waktunya kamu bertanya banyak kepada kami.” Saat itu tanggal 21 Ramadhan 1419 H.

            Keesokan harinya saya merasa terpanggil untuk pergi ke Tanah Suci. Tetapi dua minggu sebelumnya, tabungan saya sudah gunakan untuk berlibur ke Singapura dan Australia. Sekitar pukul 1 malam, iseng-iseng saya menelpon sebuah biro perjalanan haji. Dan keajaiban itu terjadi! Saya dapat kesempatan untuk menunaikan ibadah haji, meski dengan “menggerus” tabungan. Saya mendaftar pada hari terakhir pendaftaran. Saya yakin Allah SWT akan mengganti uang tabungan itu dengan berlipat ganda.

            Keberangkatan yang terkesan mendadak saya hadapi dengan tenang dan pasrah, seperti layaknya bepergian ke negara-negara lain. Lagipula sebelumnya saya telah mengenakan jilbab,sehingga tak perlu lagi membeli busana muslimah. Pakaian ihram-pun saya pinjam milik kakaka yang satu tahun lalu menunaikan ibadah haji. Bahkan tikar yang akan saya pakai di Arafah nanti adalah tikar ayah ketika beliau menunaikan ibadah haji 14 tahun yang lalu. Dan saat ayah meninggal dunia, tikar itu pula yang dipakai sebagai alas jenazah saat dikafani.

            Dengan berbagai “keterbatasan” tersebut, hati saya merasa sangat tersentuh. Apalagi saat tidur di padang Arafah pada malam Jum’At, saya tidur beralaskan tikar tersebut dan saya bermimpi tidur di sebuah istana yang megah terbuat dari emas dan penuh dengan makanan – makanan yang lezat, dikelilingi pria-pria tampan. Mudah-mudahan mereka itu penjelmaan dari malaikat.

            Kalau soal makanan lezat memang selama menunaikan ibadah haji, setiap makanan yang saya makan selalu terasa lezat. Bahkan saya mendapatkan makanan yang berlimpah. Selama ini, saya paling tidak suka dengan daging kambing. Tapi saat kami diberi hidangan gulai kambing, saya dapat melahapnya dengan enak. Memang sebelumnya saya tidak tahu kalau uang dihidangkan itu adalah daging kambing. Selain berbagai macam makanan, kami juga disodori buah-buahan segar dan aneka juice dalam kaleng. Karena terlalu banyak, maka buah-buahan dan juice tersebut kami bagi-bagikan kepada para pengemis di Mina. Jumlahnya berkarung – karung.


BERTRILYUN SYUKUR

            Rasa syukur yang mendalam pada-NYA tidaklah terhitung, trilyunan atau tidak terhitung sama sekali karena begitu banyaknya kenikmatan dan kemudahan yang Dia berikan pada saya. Sedangkan kalau dapat disebut “cobaan”, saya hanya mengalaminya sekali saja yakni saat mendapat menstruasi yang melenceng dari tanggal biasanya. Mungkin itu dampak dari penggunaan obat penunda menstruasi yang saya minum.

            Alhamdulillah, semua itu dapat saya atasi, bahkan saya memperoleh hikmah yang cukup banyak. Diantaranya, saya dapat melaksanakan shalat Ar’bain di Masjid Nabawi, Madinah, tanpa hambatan. Sedangkan shalat di Raudhah, karena pada waktu umrah di tahun 1996 dulu saya sudah melakukannya berkali –kali, maka pada musim haji tahun 1999 itu saya memberi kesempatan pada jama’ah yang lain. Sehingga mereka juga dapat merasakan bagaimana nikmatnya shalat di “taman surga”. Bukankah memberi kesempatan pada orang lain untuk beribadah berarti kita juga termasuk sudah beramal?

            Dari trilyunan rasa syukur yang saya dapati, yang utama adalah karena Allah SWT telah memberi saya kesehatan yang optimal. Selama menunaikan ibadah haji, saya tidak pernah sakit. Bahkan salah seorang menjuluki saya “Onta Arab”. Karena, menurutnya, hanya Onta Arab saja yang tidak pernah mengalami gangguan kesehatan selama musim haji.

            Sebelum kembali ke Tanah Air, saya berdoa kepada Allah SWT ; Ya Allah, saya mohon dapat kembali ke Tanah Suci huna menunaikan ibadah haji bersama ayah dari anak – anak saya kelak. Pada prinsipnya ibadag haji hanya wajib dilakukan seumur hidup, maka jika kita mendapat kelebihan rezeki, alangkah baiknya jika kita membiayai orang lain yang berniat menunaikan ibadah haji, namun ekonominya tidak mampu.

            Terlepas dari hal itu, saya sendiri berniat kembali ke tanah suci bersama suami guna menunaikan ibadah haji jika kelak telah menikah (Catatan 2007 : Alhamdulillah sudah tercapai bersama “calon suami” ketika itu, tapi gak usah daku ceritakan lebih lanjut ya! Sekarang sih daku lagi menanti calon suami disunatin...hahaha, kalau dia nggak jadi disunat berarti gak jadi suami deh...hihihii...) .Sedangkan untuk ibadah umrah Insya Allah akan saya laksanakan kembali jika timbul kerinduan saya pada Tanah Suci dan Allah memberi rezeki yang berlimpah kepada saya. Amin.

Dimuat di Majalah Amanah No.25 April 2002